Melalui software itu, karya tulis yang merupakan hasil jiplakan akan terdeteksi. "Kami memang sudah membeli software khusus untuk melacak karya tulis," kata Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Hubungan Internasional UPI Furqon saat ditemui di Kampus UPI, Jalan Setiabudi, Rabu (20/6/2012).
Karya tulis pun harus dilacak software tersebut sebelum diserahkan ke tim validasi. "Ini salah satu cara untuk meminimalkan peluang plagiarisme," ucapnya.
Dijelaskannya, keberadaan software itu dipakai sejak beberapa bulan terakhir pasca aksi plagiat yang dilakukan dosen UPI terungkap ke publik. Namun ia tidak mengetahui persis dari mana software itu didatangkan, termasuk harganya.
Selain memakai software itu, pihak UPI juga terus menanamkan nilai kejujuran pada seluruh sivitas akademik kampus. "Yang paling penting itu kan penanaman nilai (kejujuran)," papar Furqon.
Civitas akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung kembali geger dengan adanya dugaan plagiat yang dilakukan oleh salah seorang dosen. Kasus yang diduga menjerat seorang profesor ini sudah dilaporkan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Sebelumnya pada Maret 2012 lalu, tiga doktor UPI pun terjerat kasus yang sama. Profesor yang diduga melakukan plagiat berinisial DB.
(orb/tya)











































