"Saya sudah perintahkan masing-masing kepala sekolah SD dan SMP di Bandung menarik buku nonteks pelajaran berupa novel tak layak baca. Nanti buku tersebut dikumpulkan, lalu dikembalikan ke pihak Pusbuk. Kami akan meminta diganti buku baru dan layak baca," kata Oji ditemui di SMPN 44, Jalan Cimanuk, Kota Bandung, Jumat (15/6/2012).
Oji menjelaskan, novel tak layak baca ditemukan di perpustakaan sekolah antara lain berjudul 'Duka di Wibeng', 'Tambelo', dan 'Tidak Hilang Sebuah Nama'. Buku tersebut menyebar di seluruh SD dan SMP di Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Labih lanjut Oji menuturkan, pihaknya berkoordinasi dengan Disdik Jabar untuk menyurati Pusbuk terkait munculnya novel-novel yang tidak patut dibaca anak usia SD dan SMP. Sebenarnya novel-novel yang diprotes kalangan pendidik itu sudah lolos penilaian oleh Panitia Penilaian Buku Nonteks Pelajaran (PPBNP) dan dinyatakan layak berdasarkan keputusan Kepala Pusbuk Depdiknas bernomor 1715/A8.2/LL/2009 tahun 2009.
"Tapi bagaimanapun novel-novel itu mendapat pertentangan dan membuat keresahan setelah ditemukan di perpustakaan SD dan SMP. Karena memang tidak pantas dibaca siswa, tentu keberadaan novel itu harus ditarik. Jangan sampai dibaca anak-anak SD dan SMP," tutup Oji.
(bbp/ern)










































