Hal itu diungkapkan Agus Hanafi, Kepala Bidang Pengkajian Strategis Badan Kebangpol Jabar dalam acara Seminar 'Membangun Sinergitas dengan Pemangku Kepentingan dalam Mengefektifkan Pencegahan Radikal Terorisme Berbasis Kearifan Lokal di Ballroom Hotel Grand Aquila, Jalan Dr Djundjunan, Rabu (13/6/2012).
"Saya tidak punya maping untuk terorisme di Jabar. Lagipula bagaimana punya pemetaan kalau kita tidak merasa menjadi sarang terorisme. Sisi mana yang membuktikan Jabar ini sarang teroris. Seluruh komponen di Jabar ini berupaya menjaga. Sekoboi-koboinya, segagah-gagahnya orang Jabar tidak akan jadi teroris," ujar Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang melakukan kan bukan orang Jabar. Kalaupun KTP-nya Jabar, mereka itu adalah korban. Yang bertanggungjawab adalah yang membaiat," katanya.
Ia mengatakan, Jabar seringkali jadi sasararan karena fungsinya sebagai daerah penyangga ibukota yang dinilai strategis. Supaya warga Jabar tidak menjadi korban dan target jaringan teroris, Agus mengatakan perlu adanya peningkatan pemahaman keagamaan dan prinsip kehidupan.
Peran edukatif dan preventif tersebut bisa juga dilakukan LSM seperti Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jabar yang baru saja dibentuk.
"Di Jabar setahu saya LSM yang bergerak di bidang terorisme baru ini (FKPT-red) yang merupakan bentukan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris). Diharapkan forum ini bisa berkontribusi untuk pendeteksi dini radikalisme dan terorisme," tutur Agus.
(tya/ern)










































