Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengadukan adanya novel tak layak baca yang ditemukan di perpustakaan SD Cempaka Arum ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar di Jalan RE Martadinata, Selasa (12/6/2012).
Dalam pengaduannya, FGII membawa tiga judul novel yang dinilai tak layak dibaca para siswa, khususnya siswa SD. Tiga novel itu masing-masing 'Tambelo', 'Tidak Hilang Sebuah Nama' dan 'Ada Duka di Wibeng'.
"Kami sengaja adukan buku ini ke MUI. Mudah-mudahan pengaduan kami disampaikan ke nasional," kata Sekjen FGII Iwan Hermawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekum MUI Jabar Rafani Achyar yang menerima perwakilan FGII mengaku akan mempelajari dulu isi novel tersebut. "Kami akan pelajari dulu, termasuk dari sisi hukum," tegasnya.
Jika ternyata ditemukan hal-hal yang menyimpang dari segi hukum, MUI akan mendesak polisi untuk mengusut tuntas buku tersebut.
Sementara dari laporan awal, Rafani menarik kesimpulan sementara. "Ada tiga dimensi kekeliruan yaitu pornografi, pelecehan terhadap agama dan nuansa komunisme karena di dalamnya ada yang mempertanyakan eksistensi Tuhan," papar Rafani.
Namun ia ogah menarik kesimpulan terlalu jauh. Sebab pihaknya akan membaca dan mempelajari dulu buku tersebut. "Yang jelas akan kami dalami dulu," tandasnya.
Sementara buku yang dinilai mengandung unsur mengadudombakan agama
adalah 'Ada Duka di Wibeng'. Di buku tersebut diceritakan percakapan
antara laki-laki dan perempuan yang memperdebatkan tentang konsep
Trinitas yang dianut umat Kristiani.










































