40.253 terdaftar sebagai peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). 8 di antaranya merupakan peserta berkebutuhan khusus atau difabel. Ada juga dua peserta sakit yang ikut ujian, bahkan salah satunya sampai mengerjakan di ambulans.
Para peserta berkebutuhan khusus itu ditempatkan di salah satu ruangan khusus di Kampus ITB yang terbagi beberapa sekat, Jalan Ganeca. 5 merupakan tunanetra dan 3 tunarungu. Saat mengerjakan soal, mereka dibantu dua pengawas.
"Satu pengawas bertugas membaca soal, satu lagi memasukan jawaban ke lembar jawaban," kata Sekretaris Eksekutif I Panlok Bandung Asep Gana dalam konferensi pers di Kampus ITB, Jalan Ganeca, Selasa (12/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain peserta berkebutuhan khusus, peserta yang sedang sakit juga boleh membawa pendamping. Informasi yang masuk ke panitia, ada sekitar 3 hingga 4 orang yang sakit.
Namun ada juga yang memaksakan diri untuk mengikuti ujian hari ini. Salah seorang di antaranya terlihat membawa pendamping. Peserta itu masih dalam kondisi sakit dan lengan kirinya dibalut perban.
"Kebetulan peserta ini kidal dan lengan lengan kirinya sakit. Jadi dia membawa pendamping karena tidak bisa mengerjakan dengan lengan kanan," jelas Asep.
Peserta pria itu pun mengerjakan tugas di ruangan yang sama dengan peserta berkebutuhan khusus.
Sementara di salah satu sudut Kampus ITB, ada satu ambulans dari RS Santo Yusup. Di dalamnya ada peserta SNMPTN wanita. Ia terpaksa ikut serta dalam ujian meski harus menggunakan ambulans.
Terlihat di dalamnya ada pengawas dan kerabatnya yang mendampingi saat ujian. "Rencananya sih mau ada dua ambulans yang akan dipakai siswa untuk mengerjakan soal," papar Asep.
Ia menambahkan, para peserta berkebutuhan khusus dan yang sakit diberi keringanan dalam mengerjakan soal. "Mereka diberi tambahan waktu 30 menit," tandasnya.
(orb/ern)










































