Novel kategori dewasa itu berjudul 'Tambelo' dan 'Tidak Hilang Sebuah Nama'. Novel tersebut lebih banyak berisi cerita kekerasan dan seksual. "Substansi novel itu berbicara seks yang belum waktunya dibaca anak SD. Begitu pun buat kalangan SMP dan SMA yang masih membutuhkan daya nalar baik membaca buku-buku dewasa," jelas Ketua Fortusis, Dwi Subawanto, saat berbincang dengan detikbandung via ponsel, Senin (11/6/2012).
Fortusis menyesalkan novel tersebut bebas masuk ke perpusatakaan sekolah. Dwi heran bacaan tidak mendidik bisa lolos atau direkomendasi Kemendikbud. Padahal, lanjut dia, jelas sekali bacaan itu sangat tidak pantas dikonsumsi anak-anak SD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Novel kategori dewasa yang dinilai tidak layak dibaca anak-anak, ditemukan di perpustakaan SD Cempaka Arum Bandung. Dua novel yang ditemukan berjudul 'Tambelo, Kembalinya Si Burung Camar' yang diterbitkan PT Era Adicitra Intermedia, dan 'Tidak Hilang Sebuah Nama' terbitan PT Era Adicitra Intermedia.
Ini dia beberapa penggalan kalimat yang dinilai tidak layak dibaca:
Penggalan buku di novel 'Tambelo'
Hal 63
'ok, aku katakan saja, bahwa aku telah melakukan hubungan yang serius dengan roni di dalam hutan. Kami telah berhubungan badan sehingga kini di perutku ini ada darah daging roni yang harus dia pertanggungjawabkan'
'Tidak Hilang Sebuah Nama'
Hal 56
Paedophilia dan necrophilia juga bisa dikategorikan gangguan penyimpangan seksual. Penderitaan paedophilia akan merasa puas bila melakukan hubungan seksual dengan anak-anak, sedangkan necrophilia adalah orang meninggal'.
hal 57
'kurang percaya diri ketika ia akan melakukan hubungan seksual dengan sesamanya-orang-orang normal-merupakan salah satu penyebabnya. Bagaimanapun, sebagai manusia, ia butuh melampiaskan kebutuhan biologisnya. Dan bagi lelaku umumnya, ada mekanisme mimpi yg bermanfaat untuk menekan hasrat itu. Tapi bagi sebagian orang, itu saja tidak cukup'.
(bbp/tya)











































