"Sangat disesalkan kenapa pemprov tidak selektif, mengedit atau merevisi dulu sebelum buku-buku itu didrop ke sekolah-sekolah," kata Ketua FGII Jabar Achmad Taufan dalam konferensi pers di Kantor Koalisi Pendidikan Kota Bandung (KPKB), Jalan Kiliningan, Jumat (8/6/2012).
Dibagikannya buku itu, menurutnya terkesan bagi-bagi proyek. Sehingga buku yang diberikan ke sejumlah SD di Jabar tidak layak dibaca. Bahkan buku-buku itu juga dinilai tak layak dibaca siswa setingkat SMP dan SMA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, buku-buku itu dinilai tidak pantas bagi siswa karena tidak mendidik. Di dalam buku bercerita tentang kekerasan dan seksual.
"Bagaimana kita bisa mendidik siswa berkarakter dan berakhlak ketika disuguhkan bacaan yang tidak pantas dibaca," tegas Achmad.
Novel kategori dewasa yang dinilai tidak layak dibaca anak-anak, ditemukan di perpustakaan SD Cempaka Arum. Dua novel yang ditemukan berjudul 'Tambelo' dan 'Tidak Hilang Sebuah Nama'.
Ini dia beberapa penggalan kalimat yang dinilai tidak layak dibaca:
Penggalan buku tambelo
Hal 63
'ok, aku katakan saja, bahwa aku telah melakukan hubungan yang serius dengan roni di dalam hutan. Kami telah berhubungan badan sehingga kini di perutku ini ada darah daging roni yang harus dia pertanggungjawabkan'
Tidak hilang sebuah nama
Hal 56
Paedophilia dan necrophilia juga bisa dikategorikan gangguan penyimpangan seksual. Penderitaan paedophilia akan merasa puas bila melakukan hubungan seksual dengan anak-anak, sedangkan necrophilia adalah orang meninggal'.
hal 57
'kurang percaya diri ketika ia akan melakukan hubungan seksual dengan sesamanya-orang-orang normal-merupakan salah satu penyebabnya. Bagaimanapun, sebagai manusia, ia butuh melampiaskan kebutuhan biologisnya. Dan bagi lelaku umumnya, ada mekanisme mimpi yg bermanfaat untuk menekan hasrat itu. Tapi bagi sebagian orang, itu saja
tidak cukup'.
(orb/ern)










































