Seekor monyet dan pawangnya sengaja dibawa untuk meramaikan aksi. "Kenapa kami bawa monyet? Karena kami, para guru, seperti monyet yang dipekerjakan tapi tidak digaji dengan baik," kata Koordinator Aksi Iwan Hermawan.
Si monyet sempat disawer para guru dengan uang receh, ribuan, sampai 50 ribu
Ia mengatakan aksi dilakukan untuk meminta Pemprov Jabar mengambilalih pengelolaan guru. Sebab selama ini pengelolaan guru ada di tangan pemerintah kabupaten atau kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harusnya sejap April sudah diterima. Tapi ada yang baru dapat dua bulan, ada yang belum sama sekali seperti di Kota Bandung," jelasnya.
Tunjangan profesi sendiri besarannya bermacam-macam yang bisa mencapai di atas Rp 3 juta di luar gaji.
Selain monyet, massa juga membawa bunga yang punya makna simbolis tersendiri. "Kami bawa bunga sebagai simbol silahkan bunga kami dinikmati pemerintah kota dan kabupaten," tegas Iwan.
Massa sendiri menuntut bertemu dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan untuk menyampaikan aspirasi agar pengelolaan guru dikelola Pemprov Jabar atau pemerintah pusat. Namun Heryawan tidak ada di lokasi karena sedang ada kegiatan di Gedung Negara Pakuan.
"Kami kecewa Gubernur tidak menerima kami. Kami kecewa. Padahal kami sudah melayangkan surat ke Gubernur tiga hari lalu," papar Iwan.
Meski tidak ditemui Gubernur, massa akhirnya beraudiensi dengan para anggota dewan. Dan dalam aksinya massa membawa sejumlah poster di antaranya bertuliskan 'Selamat Menikmati Bunga Tunjangan Profesi Guru' dan 'Kalau Ingin Jadi Gubernur Jangan Sakiti Guru'.
(ors/ern)











































