"Sehari itu, paling sedikit lima korban. Yang diambil ada dompet, dan telepon genggam," ujar Doni kepada waratawan di Mapolsek Andir, Rabu (30/5/2012).
Nyopet dilakukannya seorang diri atau bersama komplotan yang berjumlah tujuh orang. Pria dan wanita jadi korbannya. Bahkan, turis asing pun tak luput dibidik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada dua modus yang dipraktikkan Doni dan kawan-kawanya. Pertama, modus pura-pura menjatuhkan rokok ke celana korban. "Nanti ada yang pura-pura membersihkan celana korban untuk mengalihkan perhatian. Terus pelaku lainnya mengambil dompet atau telepon genggam di saku celana korban," ungkap Doni.
Modus kedua, mengerem kaki korban yang sedang berjalan menggunakan tangan. Setelah itu, pelaku lain menepuk pundak korban. Salah satu pelaku lainnya segera meyelinapkan jemari ke saku sasaran tanpa disadari korban. Secepat kilat barang incaran itu berpindah tangan.
"Hanya butuh waktu lima detik mencopet," ucapnya.
Biasanya, dompet dan telepon genggam yang berhasil dicopet langsung diestafetkan ke pelaku masih satu komplotan.
Bapak tiga anak ini terjun melakoni spesialis copet lantaran faktor ekonomi. Pernah Doni menjalankan usaha dagang, tapi tidak berlangsung mulus. Usaha tobat pun sempat dilakukan. Namun, keadaan membuatnya kembali ke jalanan.
"Hasil nyopet buat keluarga. Sisanya buat mabuk dan judi," terangnya.
(bbp/ern)











































