"Tadi malam itu awalnya terdengar suara retakan di luar rumah. Krek, begitu suaranya. Seketika saya langsung menyuruh istri dan anak-anak keluar rumah," ucap Endang saat ditemui di RS Salamon, Bandung, Kamis (3/5/2012).
Tak disangka, langkah kaki penghuni menuju keluar pintu rumah disambut malapetaka. Seketika dinding pembatas yang terletak di lahan milik Ir Susanto itu ambruk menerjang rumah kayu hingga porak poranda. Tanah penyangga dinding itu pun nyaris mengubur hidup-hidup satu keluarga itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hanya anak ketiga, Amanda, yang enggak selamat. Dia meninggal di tempat kejadian," lirih bapak lima anak ini.
Kakak Endang yakni Sarde (55) mendengar suara gemuruh dan merasakan getaran saat dinding itu tumbang. "Bruk! Keras sekali. Saat saya lihat keluar, ternyata rumah adik saya yang tertimbun dinding," terang Sarde yang rumahnya berjarak 15 meter dari tempat kejadian.
Sarde segera bertindak. Ratusan warga pun turut berjibaku menyingkirkan dinding, bebatuan, serta tanah yang menutup rumah semi permanen itu. "Ada 30 menit kami mengeluarkan korban dari reruntuhan. Saya juga pakai lingggis untuk mengangkat batu yang menimpa Amanda. Tapi Amanda tidak tertolong dan meninggal di tempat," tutur Sarede ditemui di lokasi kejadian.
(bbp/ern)











































