Salah satu kekeliruan yang dilakukan Djohar adalah menggelar Kongres PSSI di Palangkaraya dimana didalamnya tidak diikuti pemilik suara pada Kongres di Solo.
"Yang nyata, yang ada di Palangkaraya peserta kongresnya tidak sama dengan peserta Kongres yang ada di Solo. Peserta Kongres di Solo malah sama dengan peserta Kongres Luar Biasa (KLB)," kata La Nyalla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, PSSI versi Djohar tidak melaporkan sepenuhnya hasil Kongres di Palangkaraya kepada FIFA dan AFC. Bahkan peserta Kongres pun tidak disampaikan.
"PSSI (versi Djohar) itu hanya melaporkan ke FIFA dan AFC beberapa lembar saja. Sedangkan kita melaporkan (hasil KLB) itu hampir ada seribu lembar," jelasnya.
La Nyalla mengaku sudah menyerahkan semua hasil KLB ke FIFA dan AFC. Didalamnya termasuk melaporkan siapa saja peserta Kongres PSSI di Palangkaraya dan KLB.
Sejauh ini, ia menyebut belum ada tanggapan dari FIFA maupun AFC terkait dokumen yang diserahkan. Namun ia mengatakan bahwa akan dikirimnya Tasfos ke Indonesia oleh FIFA dan AFC adalah berkat dokumen yang diserahkannya.
"Belum ada tanggapan tapi karena laporan kita semua muncullah Tasfos. Jadi kalau ada yang bilang munculnya Tasfos karena perjuangan daripada saudara Djohar Arifin, itu sangat keliru, apalagi kalau saudara Djohar mengatakan dia yang sah menurut FIFA dan AFC. Kalau memang dia sah menurut FIFa dan AFC harusnya FIFA dan AFC tidak mengeluarkan Tasfos," papar La Nyalla.
Menurutnya, Tasfos akan mengecek kebenaran Djohar yang sudah digulingkan oleh mayoritas pemilik suara di PSSI.
"Selama ini banyak yang disembunyikan. Disini tugas saya untuk jelaskan kepada masyarakat bahwa Djohar bukan ketua PSSI lagi karena sudah diturunkan oleh lebih dari 2/3 anggota," tuturnya.
Ia menambahkan, rencananya senjata rahasia soal kepemimpinan Djohar bakal diungkap ke publik dalam waktu dekat.
(orb/tya)










































