Hal itu disampaikan Kepala Museum KAA Isman Pasha saat memberikan sambutannya dalam pembukaan rangkain Peringatan KAA ke-57 di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung.
"Peringatan KAA kali ini jauh lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Bisa dibilang ini acara tujuh hari tujuh malam. Karena memang ada kegiatan yang dilakukan di malam hari," ujar Isman.
Ia pun mengajak masyarakat turut meramaikan gelaran acara Peringatan KAA ini dengan berpartisipasi di berbagai kegiatan yang ada.
"Peringatan KAA adalah milik masyarakat. Harus ada rasa memiliki dan cinta dari warga Kota Bandung pada KAA, karena Bandung adalah ibu kota KAA. Relawan yang membantu acara ini ada 900 orang, di antaranya terdiri dari Sahabat Museum," katanya.
Ketua Pelaksana Boedi Poerwohadikoesoemo menyebutkan, peringatan kali ini bakal menggebrak Bandung dengan sajian yang dikemas konsep festival budaya bertema 'Celebrating Together in Peace'.
Rangkaian acara di antaranya, pada 18-24 April, yakni Pameran Batik Asia Afrika dan Kerajinan Tangan Jabar. Pada 18-20 April, acara The Nusantara MoUN yang merupakan simulasi sidang PBB. Pada Sabtu 21 April malam, suguhan pertunjukkan wayang orang, golek dan kulit dengan lakon 'Srikandi-Senopati', 'Candradimuka' dan 'Lahirnya Gatotkaca'.
"Ada juga kegiatan bincang muda yang membahas masalah saat ini dengan organisasi internasional, KPA dan Musa Uganda, mahasiswa asal Uganda," kata Boedi.
Kegiatan lainnya yaitu tur keliling Bandung dengan menyusuri titik-titik bersejarah, dan cosplay show pada Sabtu 21 April. Pada Minggu 22 April, berlangsung parade yang diisi senam 1.000 anak di sepanjang Jalan Braga.
(tya/bbp)











































