Hal itu diungkapkan Humas Indonesia Chef Asosiation (ICA) Weddy Yanuar saat ditemui disela-sela Lomba Memasak Daging Kelinci di Halaman RM Dago Panyawangan, Jalan Ir Djuanda, Minggu (8/4/2012).
"Memang belum banyak yang menggunakan daging kelinci untuk jadi bahan masakan. Di restoran di Bandung saja saya belum nemu tuh," ujar Weddy.
Ia mengatakan, alasan daging kelinci kurang populer dibandingkan daging lain, yaitu karena sosok kelinci yang manis membuat masyarakat banyak yang tak tega menyantapnya.
"Padahal kelinci ini daging halal. Tapi banyak yang ngebayangi kelinci pas hidupnya. Jadi ga pada tega makannya," katanya.
Padahal, kelinci yang digunakan untuk bahan masakan menurut Wedd merupakan jenis kelinci pedaging yang beratnya 1 ekor bisa mencapai 10 kg. Selain itu, ada kode etik penjualan daging kelinci untuk tidak menjual dalam kondisi hidup atau memperlihatkan dalam kondisi hidup.
"Selain itu, masih jarangnya daging kelinci karena harganya mahal Rp 90 ribu sampai 120 ribu perkilogram," tutur Weddy.
Namun keunggulan dari daging kelinci yaitu dagingnya yang lembut, tinggi protein dan rendah kolesterol. Ia berharap, dengan Lomba Memasak Daging Kelinci ini akan menimbulkan minat untuk membuat menu daging kelinci di restoran, kafe atau hotelnya.
(tya/tya)











































