Pertaruhan Reputasi Drago Mamic di Akhir Putaran I

Jelang Persib vs Persiba

Pertaruhan Reputasi Drago Mamic di Akhir Putaran I

- detikNews
Sabtu, 24 Mar 2012 16:33 WIB
Pertaruhan Reputasi Drago Mamic di Akhir Putaran I
Bandung - Persib Bandung akan dijamu Persiba Balikpapan di Stadion Persiba, Balikpapan, Sabtu (24/3/2012) malam. Laga itu jelas jadi pertaruhan untuk reputasi sang arsitek 'Maung Bandung', Drago Mamic.

Sejak awal musim, Drago yang digadang-gadang sebagai pelatih jempolan diprediksi mampu mengangkat performa Persib. Namun hingga jelang laga terakhir di putaran pertama kontra Persiba, Drago seolah belum bisa membuktikan kapasitas sebagai pelatih mumpuni.

Musim ini, di tangan Drago, Persib hampir tak sekalipun menorehkan kemenangan di laga tandang. Bahkan di kandang sendiri, Persib belum menampilkan permainan atraktif sebagai calon juara Liga Super Indonesia (LSI) musim ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua laga yang tercatat permainan heroik dan cantik selama ditukangi Drago adalah saat melumat Persija Jakarta dan Pelita Jaya. Khusus untuk laga kontra Pelita Jaya, duel itu memang laga tandang.

Namun laga itu digelar di Stadion Si Jalak Harupat yang merupakan markas Persib. Artinya, laga itu tetap dianggap sebagai laga kandang karena Persib tampil di hadapan publiknya sendiri.

Dengan materi pemain bintang, prestasi Persib terbilang melempem karena hanya mampu bercokol di posisi 7 klasemen sementara. Jika kalah, Persib akan menutup akhir putaran I dengan finis di luar 5 besar. Dengan demikian, kans Miljan Radovic cs untuk jadi juara akan sangat berat.

Di laga malam ini, jelas Drago harus mampu membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih top. Jika menang di kandang Persiba, itu akan sedikit memupus citra bahwa Drago hanya mampu mempersembahkan kemenangan di kandang sendiri.

Namun jika kalah, bukan tidak mungkin manajemen akan memutus kontrak Drago dan menggantinya dengan pelatih lain. Meski bukan solusi untuk mengangkat prestasi Persib, gonta-ganti pelatih di tubuh 'Maung Bandung' seolah jadi tradisi ketika pelatih tak mampu membuat prestasi memukau.

(ors/tya)


Berita Terkait