Bangunan RPH ini seluas 400 meter ini. Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda berkesempatan meninjau langsung tempat RPH tersebut.
"Kedatangan saya ini untuk mengetahui RPH yang dibangun dari bantuan pihak ketiga. RPH ini untuk memenuhi standar pemotongan sapi impor yang merupakan permintaan pemerintah Australia," jelas Ayi kepada wartawan di kantor Distan Kota Bandung, Selasa (20/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelumnya sapi itu diringkus, lalu disembelih. Kali ini dipisahkan terlebih dahulu. Sapi dipingsangkan menggunakan alat khusu, kemudian disembelih. Setelah pingsang, tak boleh lebih 20 detik untuk dipotong," tuturnya.
Menurut Ayi, RPH sapi impor yang baru dubangun ini tidak bertentangan dengan syariat agama Islam. Selain tempat bestandar internasional, RPH tersebut tetap mendepankan sisi higeinis.
Perwakilan dari PT Kardila Lestari Jaya, Handi Tarusaputra, mengatakan RPH sapi impor tidak hanya memenuhi keinginan pemerintah Australia. Tetapi juga pemerintah Indonesia, terutama soal memperilakukan sapi.
"Istilah kami yakni tetap mensejahterakan hewan. Sapi sebelumdipotong diberi makan terlebih dahulu. Jadi jangan sampai sapi sebelum disembelih, malah tersiksa," ucap Handi ditemui di lokasi yang sama.
Meski wujud bangunan yang menghabiskan dana sebesar Rp 750 juta ini sudah jadi, Handi menyatakan aktivitas di RPH belum berjalan maksimal. Namun tahun ini sudah bisa digunakan.
"Jadi nanti hanya butuh kurang dari empat menit untuk memotong sapi," jelas Handi.
(bbp/tya)










































