Hampir sekitar dua jam Karinding Attack (Karat) tampil menyuguhkan tontonan konser metal dengan menggunakan media alat musik tradisional yakni Karinding dan rentetan alat musik tradisional dari bambu lainnya.
Berpakaian serba hitam dan memakai iket, Kimung Cs tampil sederhana. Bahkan sang vokalis utama Man Jasad, tampil tanpa menggunakan alas kaki. Sesekali Man Jasad melontarkan sapaan kepada penonton dengan menggunakan bahasa sunda. Membuat interaksi antara yang punya lakon dan penonton sangat hangat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk tata panggung, dekorasi yang diusung sangat sederhana. Berlatar belakang kain hitam dengan dua lambang serigala di kiri dan kanan panggung. Sesekali layar besar di belakang panggung menampilkan gambar-gambar bergerak.
"Ini bukan musik tradisional, bukan moderen. Terserah mau menyebut apa," ujar Man Jasad.
Meski kental dengan nuansa tradisional tatar Sunda, namun sebagai vokalis metal, Man Jasad kerap melakukan headbang.
Hampir semua lagu dalam album perdana bertajuk 'Gerbang Kerajaan Serigala' dibawakan pada konser tadi malam. Di antaranya 'Sia Sia Asa Aing', 'Lapar Ma!', 'Maaf', 'Yaro' dan lainnya.
Selain tampil membawakan lagu sendiri, Karat juga menyuguhkan banyak warna musik dengan bekolaborasi dengan musisi-musisi lainnya. Seperti ekspolrasi musik folk dengan karinding lewat kolaborasi dengan Paperback.
Selain pertunjukan musik, Karat juga akan memberikan persembahan berupa plakat berlambang kepala serigaka sebagai bentuk penghargaan bagi tokoh yang berkuasa bagi Karat.
Mereka adalah Gustaff H Iskandar, Andar Manik, Abah Olot, Mang Engkus, dan Mang Utun. Konser ini ditutup dengan lagu 'We Are The World' bersama dengan Risa Saraswati dan Peper.
(avi/ern)











































