Massa membawa panci dan wajan yang dijadikan simbol bahwa rakyat tidak bisa memasak lagi. Selain itu, pedemo juga mengusung sejumlah kayu yang digambarkan kalau rakyat beralih ke zaman tradisional untuk aktivitas memasak.
Sekjen KAMMI Pusat Andriana menilai rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi ini tidak pro-rakyat. Selain itu, lanjut dia, kenaikan BBM bakal memicu inflasi serta meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok dan barang lainnya.
"Carut marutnya manajemen di bidang migas tentunya menjadi akar tidak mampunya negara dalam memperkuat kedaulatan energi. Alih-alih memperbaiki manajemen migas, pemerintah malah memaksa rakyat menanggung beban dosa dengan menaikan harga BBM," jelas Andriana disela-sela demonstrasi.
Ia menambahkan, kenaikan BBM akan dirasakan efeknya terhadap para pelaku industri yang tak menutup kemungkinan berimbas dengan terancamnya buruh terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Maka itu, KAMMI menyatakan sikap menolak kenaikan BBM. Kalau masih bersikeras tetap menaikan BBM, maka SBY dan Boediono harus mundur karena tidak mampu mengemban amanat rakyat," tegas Andriana.
Aksi ini dijaga puluhan aparat kepolisian. Pedemo meeneteng poster yang antara lain bertulis, 'Rakyat Tercekik Gara2 BBM Naik', dan 'BBM Naik, SBY Boediono Turun'.
(bbp/avi)











































