2012, Sudah Dua Pasien Kasus Suspect Flu Burung Meninggal

2012, Sudah Dua Pasien Kasus Suspect Flu Burung Meninggal

Tya Eka Yulianti - detikNews
Minggu, 04 Mar 2012 14:57 WIB
Bandung - Baru memasuki bulan ketiga di 2012, tercatat sudah ada dua kasus avian influenza atau flu burung (H5N1) di Kota Bandung. Kedua pasien yang sebelumnya dirawat di ruang isolasi Flamboyan RS Hasan Sadikin itu meninggal dunia.

"Tahun ini tercatat dua pasien suspect flu burung yang dirawat di ruang isolasi flamboyan. Keduanya meninggal dunia akibat kondisi yang kritis," ujar Jubir Tim Penanganan Penyakit Khusus RSHS Primal Sudjana saat dihubungi detikbandung via telepon selulernya, Minggu (4/3/2012).

Pasien pertama kasus suspect flu burung yaitu SA (37), warga Kampung Mengger Girang Kelurahan Pasirluyu Kecamatan Regol. Ia masuk ke ruang isolasi Senin (6/2/2012) kemudian meninggal Selasa (7/2/2012). Saat masuk ke RSHS, SA sudah kritis dan mengalami gangguan pernapasan berat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SA mengalami gagal napas dan radang paru-paru. Sebelum sakit parah dan akhirnya meninggal, SA dan keluarganya sempat sakit flu dan sembuh.

Menurut riwayat, SA tidak kontak dengan unggas ataupun ada unggas mati mendadak di sekitar rumahnya. Namun memang di belakang rumah pasien, tetangga memelihara itik. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) Kota Bandung memastikan kondisi unggas di daerah sekitar rumah almarhum SA kondisinya sehat dan negatif virus H5N1.

"Hasil labolatorium H5N1 pada pasien SA dinyatakan negatif flu burung," katanya. Begitu pula hasil pemeriksaan laboratorium SA pun dinyatakan negatif terjangkit virus H5N1.

Pasien kedua yaitu A (42) warga Kecamatan Buahbatu yang meninggal dunia pukul 20.20 WIB, Sabtu (3/3/2012). A tidak menunjukkan perbaikan sejak dirawat di Ruang Flamboyan RSHS sejak Rabu (29/2/2012). Ia mengalami gagal organ ganda yaitu komplikasi gagal nafas, gagal ginjal dan gagal hati.

Namun belum bisa dipastikan apakah A positif H5N1 atau tidak karena masih meunggu hasil resmi pemeriksaan labolatorium. "Untuk yang A, kita masih menunggu hasil resmi dari Litbang Jakarta," tutur Primal.

(tya/orb)


Berita Terkait