Menurut Koordinator API Jabar Asep Syarifudin, aksi yang dilakukan kali ini merupakan bentuk dorongan moril bagi rekan-rekan FPI.
"Kami ingin menegaskan dan meluruskan opini publik tentang FPI," kata Asep saat ditemui di sela aksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya juga menuding Gubernur Kalteng A Teras Narang menggerakkan kelompok preman dalam konflik yang terjadi di Bandara Cilik Riwut.
"Gubernur Kalteng merasa kepentingannya akan terusik keberadaan FPI terutama dengan adanya kasus sengketa lahan antara perusahaan dengan warga dayak asli yang berada di pedalaman," jelasnya.
"Tapi hal itu diputarbalikkan faktanya, seolah-olah FPI adalah organisasi radikal yang harus dibubarkan," tutur Asep.
Dalam aksinya, massa membawa sejumlah poster dan bendera dari masing-masing ormas islam. Di API sendiri, sedikitnya tergabung sekitar 30 organisasi islam.
Sementara itu, massa menyatakan 7 sikap. Di antaranya mengutuk dan mengecam keras tindakan gerombolan yang mengatasnamakan suku dayak, menolak dan mengecam isu pembubaran FPI yang disuarakan segelintir orang-orang liberal dan kafir.
Massa juga mendesak Kapolri agar segera mengusut tuntas insiden di Bandara Cilik Riwut dan segera menangkap pelaku perusakan bandara serta lokasi kegiatan Maulid Nabi FPI di Palangkaraya Kalteng.
Massa yang memulai aksi pukul 14.00 WIB itu pun masih bertahan di lokasi hingga pukul 14.45 WIB. Padahal sejak pukul 14.30 WIB, hujan deras mengguyur lokasi.
Sebagian dari massa menggunakan payung untuk menutupi badannya agar tidak kebasahan. Sementara untuk mengobarkan semangat, massa menyanyikan yel-yel. Satu per satu perwakilan pun berorasi di atas mobil bak terbuka.
(ors/ern)










































