"Sejak bulan puasa sampai sekarang, harga beras merangkak naik, dari Rp 6.400 per kilogram kini berada di kisaran Rp 8.000 per kilogram," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Ferry Sofyan Arif saat ditemui usai melakukan peninjauan operasi pasar di Pasar Kosambi Bandung, Jalan Kosambi, Kamis (5/1/2012).
Ia mengatakan, pemerintah akan terus melakukan upaya untuk menekan dan menahan harga agar tidak melonjak. Di antaranya dengan melakukan operasi pasar beras murah bulog ke sejumlah pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan adanya pedagang yang menjual beras oplosan, menurut Ferry hal itu tidak menjadi masalah jika masyarakat berkenan. "Itu kan teknis di penjual untuk mencoba jalan tengah. Jadi beras lokal yang dioplos beras Bulog supaya dari segi harga lebih murah, namun tetap dapat pulennya," katanya.
Di Jabar, ada 7 sub divre Bulog yang bisa menggelar operasi pasar serupa. Beras Bulog menurut Ferry banyak dimanfaatkan oleh penjual nasi goreng, nasi kuning atau warung nasi.
Upaya lain untuk menahan kenaikan harga beras yaitu dengan penyaluran beras miskin. Dengan distribusi raskin diharapkan akan mendorong masyarakat membeli beras supaya harga tidak melambung.
Sementara itu Kepala Perum Bulog Divre Jabar Usep Karyana mengatakan, pagu raskin untuk Jabar pada 2012 ini angkanya masi sama dengan 2011 yaitu sebanyak 42 ribu ton untuk 2,8 juta RTS (rumah tangga sasaran).
"Targetnya pertengahan Januari ini akan kami salurkan," katanya.
(tya/ern)










































