Maksud dibangunnya lintasan rel kereta berposisi di atas jalanan itu untuk mengembangkan transportasi massal yakni kereta api dan melancarkan arus lalu lintas jalan raya di Kota Bandung.
Hal tersebut disampaikan Kadishub Kota Bandung Prijo Soebiandono saat ditemui usai pertemuan membahas proyek tersebut di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Senin (28/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prijo, selama ini Kota Bandung hanya memiliki satu rel, berbeda dengan Padalarang yang menerapkan double track. Ia berharap proyek pembangunan posisi lintasan kereta di atas itu terealisasi pada 2012 mendatang.
"Nantinya jalur kareta di Kota Bandung itu seperti di Jakarta. Contohnya Stasiun Gambir yang posisinya ada di atas," ujar Prijo.
Ia menambahkan, kalau proyek tersebut terwujud tentu bisa menjadi solusi mengatasi kemacetan di Kota Bandung. Apalagi nanti bakal ada kereta rel listrik. "Kalau kondisinya tetap seperti sekarang, kehadiran KRL itu imbasnya jadi makin macet karena tiap tiga menit sekali palang pintu menutup," ucapnya.
Prijo menjelaskan, selama ini di Kota Bandung, kereta yang lewat di lintasan sebidang berlokasi di beberapa kawasan padat kendaraan. Seperti Jalan Andir, Jalan Ciroyom, Jalan Braga, Jalan Merdeka, Jalan Ahmad Yani, Jalan Laswi, dan Jalan Kiaracondong.
Secara teknis, papar dia, lokasi jalur kereta api di atas ini masih dalam pembahasan antara instansi terkait. Namun, lanjut Prijo, jalur tersebut bisa dimulai dari kawasan Andir hingga titik akhirnya di Gedebage karena kawasan ini bakal dibangung Terminal Terpadu.
"Teknisnya seperti apa, itu belum," terangnya.
Proyek tersebut, sambung Prijo, mesti dilihat manfaatnya untuk jangka panjang ke depan. Bahkan, nantinya bisa terintegrasi dengan jalur-jalur kereta yang menghubungkan wilayah Bandung Raya.
Dia menambahkan, proyek tersebut membutuhkan dana Rp 5 triliun. Tetapi saat ini, Prijo menjelaskan, pihak Pemerintahan Prancis menyiapkan bantuan dana dalam bentuk pinjaman lunak.
(bbn/ern)











































