Acara ini dihadiri oleh delegasi dari 10 negara anggota ASEAN yaitu Myanmar, Thailand, Kamboja, Singapura, Laos, Vietnam, Malaysia, Philipina, Brunei Darussalam dan Indonesia. Selain itu, hadir pula Sekda Jabar Lex Laksamana dan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Alma Lucyati.
Sementara itu salam sambutannya, Lex berharap simposium ini akan memberikan rekomendasi terbaru seputar penanggulangan AIDS untuk diterapkan di ASEAN, khususnya untuk Indonesia dan Jawa Barat. Lex menyebut, berdasarkan data kumulatif hingga September 2011, ada 3.925 kasus AIDS yang dilaporakan dan 2.354 HIV positif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan dalam rekaman pidatonya yang diputar pada acara ini menyebut ada sekitar 1,5 juta penduduk di ASEAN yang terkena HIV/AIDS.
Karena itu, dibutuhkan komitmen dan kerjasama yang kuat diantara negara-negara ASEAN untuk menanggulangi hal itu. Sehingga diharapkan ASEAN tidak lagi ada penderita HIV AIDS baru atau Zero New HIV Infection dan juga tidak lagi ada angka penderita Aids yang meninggal dunia atau Zero AIDS-Related Death.
Pelayanan kesahatan pun diharapkan dapat memberikan akses yang sama pada para penderita HIV/Aids atau Zero Discrimination.
"Kita tidak mau meninggalkan mereka (ODHA) di belakang kita," katanya.
AFTOA sendiri didirikan pada tahun 1993 sebagai respon regional terhadap pengendalian HIV/Aids. Kemitraan ini dibuat lebih strategis dan dengan tindakan nyata dalam mencapai visi Getting to Zero New HIV Infection, Zero Discrimination, Zero AIDS-Related Death in ASEAN.
(tya/ern)











































