Dengan dimediasi Komisi IV, baik dari Martin Ismail, ayah Nisa, RS MAL, Dinkes Kota Cimahi dan HLKI yang mengadvokasi keluarga Martin telah menyampaikan maksudnya. Martin meminta agar RS transparan dalam menangani pasien. Begitu juga pada Dinkes ia meminta kemudahan dalam pelayanan kesehatan.
"Saya minta RS transparan. Kalau yang jamkesmas itu saya enggak tahu. Pak RT enggak pernah datang, baru setelah kejadian ini saja datang," ujar Martin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Ketua Umum Himpunan Lembaga Konsumen Indonesia (HLKI) Firman Turmantara meminta agar Dinkes membuat protap jika ada warga miskin yang sakit untuk ke RS. Hal itu menurutnya untuk mempermudah mencari yang salah jika terjadi masalah lagi seperti ini.
"Alhamdulillah pertemuan ini seperti yang diharapkan. Menjadi ruang mediasi yang membuat semua pihak berlapang dada, besar jiwa. Bersyukur sekali," ujar anggota Komisi IV DPRD Kota Cimahi Ike Hikmawati usai pertemuan di ruang rapat Komisi IV DPRD Kota Cimahi, Kamis (10/11/2011).
Ike dan Ketua Komisi IV Masrohan yang memimpin rapat setidaknya mencatat ada 3 komitmen yang dihasilkan dari pertemuan tersebut. "Yang pertama, komitmen petugas kesehatan agar tanggap dan komunikatif pada pasien. Kedua, semua elemen mulai dari Dinkes, DPRD, RS serta stakeholder di bidang kesehatan lainya harus konsern membangun kemitraan dn sinergitas untuk melakukan sosialisasi program kesehatan. Dan yang ketiga kita akan membuka sumbat-sumbat komunikasi sehingga masyarakat tidak sungkan lagi mengurus jamkesda," katanya.
Ia berharap salah komunikasi seperti kejadian ini tidak terulang lagi. "Seperti yang disebutkan Pak Martin, dia tidak dapat info dari dari RT, itu berarti ada sumbat-sumbat komunikasi," katanya.
Di akhir pertemuan, perwakilan mahasiswa dari Universitas Pasundan menyerahkan bantuan pada keluarga Martin melalui Ketua Komisi IV. "Karena tahu akan ada pertemua ini, kemarin kami keliling kampus penggalangan dana. Inisiatif teman-teman saja," ujar Erick Sihombing, mahasiswa Hukum Unpas.
Berapa jumlah uang yang terkumpul pun Erick mengaku tidak tahu. Dus putih bertuliskan 'Kepedulian Sosial Untuk Keluarga Almarhum Bayi Putri Bpk Martin Ismail yang meninggal di RS MAL' itu terlihat telah disegel plester bening.
"Ngumpulin dari pagi sampai sore. Jumlahnya enggak tahu berapa soalnya langsung kita plester lalu dikasih," katanya.
Nisza meninggal dunia pada pukul 11.00 WIB, Sabtu (22/10/2011). Saat ditangani di RS Mitra Anugrah Lestari (MAL), keluarga merasa Nisa tidak dirawat dengan baik. Nisa alami panas tinggi disertai step. Berkali-kali, Nisa tidak diobati karena keluarga belum bisa membayar resep obat. Bahkan saat pertama datang pada Jumat (21/10/2011), Nisa dibiarkan hingga empat jam di UGD tanpa penindakan.
Sementara itu pihak RS MAL mengaku telah memberikan obat meski resep belum ditebus pihak keluarga. Pihak RS sengaja menyembunyikannya agar pihak keluarga tetap bertanggungjawab untuk segera mencari uang untuk melunasi biaya obat.
(tya/ern)











































