Kisruh sendiri terjadi karena ada perbedaan paham dan keinginan di antara sesama klub. Satu sisi, klub menginginkan kompetisi diikuti 24 klub, sementara sisi lain menginginkan hanya diikuti 18 klub.
Tidak hanya jumlah klub, pengelola kompetisi pun dipersoalkan. Di mana ada kubu yang menginginkan kompetisi digelar PT Liga Indonesia dengan nama kompetisi Liga Super Indonesia (LSI). Sementara kubu lain menginginkan dikelola PT Liga Prima Indonesia Sportindo dengan nama kompetisi Liga Prima Indonesia (LPI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seharusnya, kata dia, Persib memilih salah satu kubu jika yakin satu di antaranya benar. Jika mengacu pada aturan, Giantoro menilai 13 klub yang menginginkan kompetisi diikuti 18 klub dengan nama kompetisi LSI, jelas sesuai aturan.
"Hasil Kongres II PSSI di Bali disepakati kompetisi diikuti 18 klub. Jadi kompetisi yang digelar harus sesuai statuta PSSI dan statuta FIFA," ungkapnya.
Ia menilai, sikap netral Persib dalam melihat permasalahan yang ada justru menimbulkan kesan negatif. "Justru lebih banyak sisi negatif dibanding positifnya. Persib terkesan cari aman saja, makanya sikapnya abu-abu," cetus Giantoro.
Ia sendiri mendukung apa yang diucapkan Toni Apriliani bahwa Persib bersikap seperti banci karena tidak memihak salah satu kubu. "Toni bukan orang bodoh yang asal mengeluarkan pernyataan," tandas Giantoro.
(ors/avi)










































