"Protap di farmasi, ada uang ada obat. Tapi kalau tidak berhasil, perawat pinjam dulu (ke apotik-red). Tapi perawat tidak bilang kalau obat sudah dikasih. Karena pengalaman kami (kalau diberitahu-red), keluarga tidak berusaha mencari (uang-red). Soalnya banyak yang mengaku miskin, ," ujar Zakaria kepada wartawan di RS MAL, Jalan Cibaligo, Cimahi, Senin (24/10/2011).
Ia mengaku waktu jenazah pasien dibawa pun sudah dijelaskan pada keluarganya. "Seharusnya sih kasih tahu, biar enggak bikin panik. Memang kami harus dievaluasi lagi yang seperti ini. Susah juga soalnya ya untuk pengecualian ini," tuturnya.
Ketika disinggung apakah secara kode etik kedokteran membohongi keluarga pasien diperbolehkan? "Dikatakan bohong atau tidak, ada kode etik atau tidak, tapi kami berdasarkan pengalaman. Tapi kami mengupayakan obat dan alat tanpa sepengetahuan pasien seperti alat infus, obat dan penyedot cairan. Memang harus evaluasi semuanya," akunya.
Sebelumnya ayah Nisa, Martin Ismail (27) mengaku selama dirawat di RS MAL, anaknya tidak mendapatkan perawatan yang bagus. Saat tiba di RS itu pukul 14.00 WIB, Jumat (21/10/2011), pihak rumah sakit mempersulit pengobatan dengan alasan biaya. Untuk masuk ruang rawat inap, keluarga dibebani uang muka Rp 500 ribu. Setelah berdebat dan negosiasi, keluarga bayar Rp 150 ribu dulu, baru Nisa masuk ruang perawatan.
Begitu pula dengan tindakan-tindakan setelahnya. Keluarga juga diminta membereskan dulu pembayaran obat, baru obat dikasih. "Kalau ada uang ada obat. Itu kata mereka," ujar Martin yang kini pengangguran ini. Sebelumnya ia sempat berjualan gehu.
(ern/ern)











































