Guru Harus Jadi Agen Penangkal Bahaya Terorisme

Guru Harus Jadi Agen Penangkal Bahaya Terorisme

- detikNews
Senin, 17 Okt 2011 13:41 WIB
Bandung - Sekitar 300 guru mata pelajaran Agama se-Jabar mengikuti pelatihan 'Guru yang Humanis dan Berbhineka' di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Senin (17/10/2011). Para guru diharapkan menjadi ujung tombak atau agen penangkal bahaya terorisme yang mengincar kalangan pelajar sebagai kaderisasi.

"Kami tidak ingin ada generasi muda yang rela mati sebagai pelaku bom bunuh diri, dicekoki janji masuk surga, ditemani 72 bidadari seperti yang terjadi pada Dani Dwi Permana," Ketua Umum Lazuardi Birru, Nugroho, kepada wartawan.

Dani Dwi Permana merupakan pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriot pada 17 Juli 2009. Dani yang saat itu berusia 17 tahun, baru saja lulus SMA. Ia direkrut Saefudin Zuhri yang belakangan diketahui bergabung dengan jaringan Noordin M Top.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kegiatan ini berupaya menekan kembali agar peran penting guru sebagai agen perubahan sosial dan pembentuk karakter bangsa. Dengan demikian guru bisa menangkal kekerasan dari ruang kelas," kata Nugroho.

Ia menerangkan, kegiatan seperti ini sudah kali kedua digelar. Acara yang digagas Lazuardi Birru saat ini antara lain bekerjasama dengan Pemprov Jabar, Komisi Perlindungan Anak, Disdik Jabar, dan Majeles Ulama Indonesia (MUI).

Lebih lanjut Nugroho menuturkan, denan pelatihan ini diharapkan guru mampu meminimalisir aksi kekerasan terhadap anak didiknya dengan memberikan pemahaman agama yang cintai damai.

"Juga menanamkan nilai toleransi dan kemanusian. Sehingga segala perbedaan dapat diselesaikan dengan jalan damai," ujarnya.

Nugroho menambahkan, pelatihan tersebut juga menyampaikan informasi bahaya laten dan terorisme yang menargetkan generasi muda sebagai kaderisasi dan pelaku bom bunuh diri.

Lazuardi Birru saat sudah ini menerbitkan novel grafis yakni kisah Nasir Abas dan Dani Dwi Permana dalam novel berjudul 'Kutemukan Makna Jihad' dan kisah Hayati Eka Laksmi yang merupakan salah satu istri korban Bom Bali 1 yang berjudul 'Ketika Nurani Bicara'.

Ditemui ditempat yang sama, Perwakilan MUI Slamet Effendi mengatakan, pihaknya mengeluarkan fatwa haram bagi teroris. Maka itu, kondisi saat ini sangat penting mendayagunakan pranata pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai mengedepankan semangat hidup damai di tengah masyarakat plural.

"Anak didik harus dibiasakan hidup dalam hubungan harmonis, saling menolong, dan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama," jelasnya.


(bbn/avi)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini