Buku setebal 267 halaman yang disusun Ketua Bandung Heritage, Harastoeti DH, itu bertitel '100 BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI BANDUNG'. Sampul atau cover buku tersebut bergambar Gedung Bank Indonesia (BI).
"Isinya menampilkan foto terkini bangunan cagar budaya di Kota Bandung. Setiap foto dijelaskan pula dengan tulisan bergaya santai agar masyarakat mudah memahami," jelas Harastoeti saat peluncuran buku tersebut di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Senin (25/7/2011) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus tetap melestarikan aset bangunan tua. Melalui buku ini, kami mengajak agar orang jangan takut menjaga bangunan cagar budaya," ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Harastoeti mengungkapkan, sudah lama punya obsesi merangkum bangunan bernilai sejarah yang direkam dalam sajian buku. Cita-cita Bandung Heritage gelindingkan sepanjabg ini yakni mengusung selamatkan cagar budaya bernilai sejarah.
Jebolan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur ini menuturkan, memelihara peninggalan bangunan tergolong langka di Kota Bandung bukanlah tanggung jawab segelintir kalangan. Justru, lanjut Harastoeti, semua pihak mengemban tugas bersama menjaga bangunan-bangunan uzur.
Dia menjelaskan, buku ini sekaligus ingin memperkenalkan bangunan bersejarah di Bandung kepada masyarakat luas, khususnya pemilik bangunan. Beberapa waktu lalu lahir Perda No 19 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung.
"Di mana di dalamnya berisi daftar bangunan cagar budaya sebanyak 90 nomor, tetapi mencakup 100 bangunan," papar Harastoeti.
Buku berwarna tersebut ditawarkan dua jenis. Untuk soft cover dilego Rp 75 ribu, jenis hard cover dibanderol Rp 100 ribu. Di buku ini bangunan-bangunan dibagi enam kawasan. Yakni kawasan pusat kota, kawasan pecinan atau perdagangan, kawasan pertahanan dan keamanan atau militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa dan nonvilla, kawasan industri.
(bbn/ern)











































