Selama Ramadan, Televisi Diminta Seperti Pengusaha Restoran

Selama Ramadan, Televisi Diminta Seperti Pengusaha Restoran

- detikNews
Jumat, 22 Jul 2011 00:50 WIB
Bandung - Lembaga penyiaran khususnya televisi diminta bersikap seperti pengusaha restoran maupun tempat hiburan selama bulan ramadan. Sebab setiap ramadan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jabar selalu menerima keluhan masyarakat.

"Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya selama bulan ramadan, KPID Jabar banyak menerima aduan masyarakat yang keberatan terhadap iklan-iklan yang dapat mengganggu ibadah mereka," ujar Koordinator Bidang Isi Siaran KPID Jabar Nursyawal.

Hal itu diungkapkan Nursyawal dalam rilis yang diterima detikbandung, Kamis (21/7/2011). Menurutnya, aduan-aduan itu kebanyakan disampaikan langsung masyarakat ke KPID Jabar, baik lewat telepon atau datang ke kantor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Elemen masyarakat meminta lembaga penyiaran juga bersikap sama seperti pengusaha restoran atau tempat hiburan yang menutup usaha mereka atau menghalangi pandangan mata terhadap hidangan yang tersaji," jelasnya.

Nursyawal mengatakan, masyarakat meminta agar iklan produk makanan menyesuaikan diri dengan suasana ramadan, terutama untuk anak-anak yang masih mudah tergoda saat berpuasa.

"Juga iklan-iklan yang mengumbar aurat perempuan termasuk pakaian presenter televisi yang dapat mengurangi keabsahan puasa, diharapkan dihilangkan sama sekali," tegas Nursyawal.

Keluhan lain selama ramadan, adalah perilaku presenter televisi atau radio pada program sahur dan jelang buka puasa yang sama sekali tidak sejalan dengan semangat puasa.

"Semangat puasa di sini yaitu menahan nafsu. Para presenter itu bertindak berlebihan, menggoda penelepon yang masuk di udara, tertawa terbahak-bahak, saling mengejek, saling mencela, atau bergunjing tentang kehidupan pribadi orang lain," tuturnya.

Keluhan lainnya, sambung Nursyawal, adalah sinetron atau drama religi yang tidak sejalan dengan semangat puasa.

"Berdasarkan pemantauan KPID Jabar, sinetron atau drama religi hanya sekedar menggunakan simbol agama, sementara isinya tidak agamis, bahkan cenderung klenik dan musyrik," pungkas Nursyawal.

(ors/ern)


Berita Terkait