Panggung letter T untuk catwalk dipasang tepat di depan pintu masuk menuju Gedung Sate. Tak hanya itu, dipasang pula dua screen di tembok samping pintu masuk. Pencahayaan pun diatur apik sehingga suasana di Gedung Sate pun terlihat lebih semarak.
"Memang baru pertama kalinya ada fashion show di depan Gedung Sate seperti ini. Ini juga sekalian untuk open house pada masyarakat bahwa Gedung Sate itu terbuka bagi siapa saja," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Ferry Sofwan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soft opening acara dibuka sekitar pukul 17.00 WIB dengan penampilan kabaret dari Komunitas Cosplay yang anggotanya adalah siswa-siswi SMA dari Bandung dan Cimahi.
Setelah itu pagelaran busana dilanjutkan dengan peragaan busana hasil karya para desainer muda dari sejumlah perguruan tinggi.
Karya yang ditampilkan pun temanya berbeda antara satu desainer dan desainer lainnya. Karena memang dalam gelaran Jabar Ngagaya yang pertama kalinya ini tidak ada tema besarannya.
Ada yang memamerkan busana bergaya futuristik, klasik atau casual. Desainer dari sejumlah perguruan tinggi yang ikut dalam pagelaran ini diantaranya dari ITB dan Maranatha. Karya yang mereka tampilkan dalam fashion show ini juga akan dinilai oleh juri untuk dipilih sebagai karya terbaik.
Penampilan pun ditutup dengan peragaan busana karya desainer senior yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha dan Perancang Mode Indonesia (APPMI) seperti Nunik Mawardi dan Malik Mustaram. Sementara dari IPBM ada 16 desainer yang akan memamerkan karya-karyanya. Mereka dianataranya Ifa Latifah dan Herman Nuari.
"Karya-karya yang ditampilkan kebanyakan modelnya yang ready to wear," tutur Ferry.
(tya/ern)










































