Sebanyak 20 ribu pedagang ayam mengancam mogok berjualan bila harga ayam potong di Kota Bandung masih meroket tinggi. Jelang puasa ini, harga ayam di 34 pasar tradisional menembus Rp 26 ribu per kilogram.
Persatuan Pedagang Ayam Indonesia (PPAI) Kota Bandung menilai harga ayam potong tersebut sudah tidak stabil. Kenaikan harga sudah dirasakan sejak dua pekan.
"Pedagang ayam di pasar tradisional saat ini kondisinya menjerit. Harga jual saat ini tentu saja membuat konsumen menghindar," ujar Koordinator PPHI Kota Bandung Yoyo Sutarya saat ditemui di kantor Dinas Peternakan Jabar, Jalan Ir. H Djuanda, Jumat (8/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami meminta pemerintah yakni instansi terkait untuk segera mengatasi harga yang tidak normal itu. Bila tidak, 20 ribu pedagang ayam di Bandung siap mogok jualan," tegasnya
Selain itu, sambung Yoyo, para pedagang juga bakal memberikan opsi lain yakni memboikot ayam-ayam dari peternak. "Kami tidak akan terima ayam-ayam itu," jelasnya.
Kondisi saat ini, terang dia, ayam potong dari peternak yang awalnya Rp 12.500 per kilogram menjadi Rp 17 ribu pe kilogram. Sementara dari harga dari bandar yakni Rp 18.500 per kilogram. Melihat kondisi tersebut, sambung Yoyo, pedagang terpaksa menjual Rp 26 ribu.
"Tentu saja harga tersebut memberatkan konsumen. Tapi kami menilai kenaikan harga dari peternak itu ulah dari spekulan-sepekulan nakal. Maka itu, kami meminta waktu sepekan kepada pemerintah untuk cepat bertindak. Kalau tidak berubah, kami terpaksa tidak berjualan," tuturnya.
Yoyo menerangkan, kebutuhan ayam di Kota Bandung yang disebar ke 34 pasar tradisional, setiap harinya mencapai 300 truk. Satu truk itu kira-kira menampung ayam seberat 3 ton.
"Ayam-ayam itu didatangkan antara lain dari Ciamis, Cirebon, Majalaya, Banjar, dan Sumedang. Ayam sebanyak itu selalu habis setiap harinya," terang Yoyo.
(bbp/ern)











































