Remy dan Rizki Luput dari Ancaman Peluru

TKI Kabur dari Malaysia

Remy dan Rizki Luput dari Ancaman Peluru

Baban Gandapurnama - detikNews
Senin, 20 Jun 2011 16:33 WIB
Remy dan Rizki Luput dari Ancaman Peluru
Bandung - Bukan perkara mudah bagi kakak adik, Remy Firmansyah (28) dan Rizki Sandy Fauzi (19), kabur dari tempatnya bekerja di Malaysia. Mereka harus menanggung risiko siap mati. Warga asal Kabupaten Bandung itu luput dari ancaman tembakan para security di pabrik kapal tempatnya bekerja.

"Enggak mudah untuk kabur. Kalau kabur bakal ditembak oleh petugas keamanan," ujar Remy saat ditemui di rumahnya, Senin (20/6/2011).

Ia berkisah, perusahaan tempatnya bekerja itu dipasang sejumlah papan peringatan bagi seluruh pekerja. Papan bergambar itu sekaligus ancaman bagi mereka yang berniat melarikan diri.

"Papan peringatan seukuran pintu itu bergambar seorang bersenjata yang lagi menembak orang lari," ucap Remy.

Remy dan Rizki bersama tujuh warga Indonesia lainnya berhasil mengelabui ketatnya penjagaan petugas keamanan. Aksi melarikan diri tersebut dilakukan pada siang hari. Kabar yang diperolehnya, sudah banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berhasil kabur dari perusahaan tersebut. Alasan kabur hampir seragam, tak betah dengan kondisi kerja dan gaji dipangkas oleh agen yang bekerjasama dengan perusahaan.

"Semua lolos dalam aksi kabur itu. Ngeri juga lah kalau sampai ketahuan kabur. Tapi saya sudah memikirkan risikonya," ucapnya.

Remy dan Rizki memutuskan pergi ke Malaysia karena diiming-imingi gaji Rp 2,5 juta oleh agen penyalur TKI yang diduga ilegal. Mereka awalnya percaya saja dengan tawaran agen yang kantornya tak jauh dari rumahnya itu. Kabarnya, agen peyalur itu dikelola oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial A yang bekerja di kantor pelatihan kerja, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung.

"Saya curiga agen itu enggak benar setelah pengurusan paspor di Jakarta. Paspor saya itu tertulis paspor umroh. Kalau Rizki tertulis paspor wisata," ungkap Remy.

Sadar jadi korban sindikat, Remy dan Rizki tak bisa berbuat banyak. Sebab saat itu posisi mereka tinggal berangkat ke Malaysia melalui Tanjung Priok melintas Pontianak.

"Terpaksa saya dan Rizki tetap berangkat. Soalnya kami sudah keluar uang 1,5 juta rupiah untuk pengurusan keberangkatan ke Malaysia," paparnya.

Dua bulan Remy dan Rizki bekerja di perusahaan tersebut. Maret 2011 lalu mereka pergi ke Malaysia melalui agen penyalur yang diduga ilegal. Awal Juni lalu, keduanya kembali ke Indonesia dan pulang ke rumahnya di kawasan Kabupaten Bandung dengan kondisi selamat.

(bbp/ern)


Berita Terkait