Hal itu diungkapkan Endang saat ditemui usai membuka acara 5th Conference of Asian Association of Schools of Pharmacy (AASP) di Aula Barat ITB, Jalan Ganeca, Jumat (17/6/2011).
Ia mengatakan, jumlah kasus DBD masih sulit ditekan, karena itu bukanlah tanggungjawab Kementrian Kesehatan sendiri, namun memerlukan bantuan dari masyarakat dan pemerintah daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun mengatakan bahwa beberapa waktu lalu sempat digelar pertemuan se-Asean, dimana ditetapkan sebagai Hari DBD. Selain itu dalam pertemuan itu dilakukan juga dialog nasional yang mengundang bupati, walikota dan beberapa gubernur.
"Kami mereka komitmen membuat perda yang isinya tentang pemberantasan sarang nyamuk," katanya.
Aplikasinya, kata Endang, bisa dibuat dengan melakukan kegiatan rutin kebersihan, misalnya Jumat Bersih atau kegiatan lainnya.
Lebih lanjut, Endang menjelaskan tentang pemberian vaksi DBD pada sejumlah anak. Vaksi itu masih dalam uji coba selama 5 tahun.
"Jadi nanti dilihat, anak-anak yang diberi vaksin dan tidak, banyak mana yang tidak kena. Harapannya melindungi selama 5 tahun. Hasilnya ya baru diketahui 5 tahun lagi. Sejauh ini sih tidak ada efek sampingnya. Mereka baik-baik saja sampai saat ini, sama seperti vaksin lainnya," tutur Endang.
(tya/ern)










































