Hal itu terjadi dalam rapat koordinasi (rakor) tentang Jalan Braga dan ruang terbuka hijau (RTH) di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Senin (13/6/2011).
Dalam rakor tersebut, Sigit yang juga Sekretaris Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri ITB memaparkan analisa Jalan Braga yang berkali-kali rusak dan diperbaiki. Dari segi teknis, Sigit menilai banyak hal yang tidak sesuai dengan prinsip pengerjaan jalan bermaterialkan batu andesit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Celah antar batu andesit juga terlalu sempit, bahkan ada yang jaraknya 6-8 milimeter. Sementara idealnya, celah batu satu sama lain adalah 1,5 centimeter kemudian baru ditutup material pasir dan semen.
"Khusus untuk pasir material pengisi celah batu, itu harus pasir pilihan, tidak boleh bercampur dengan lumpur," tuturnya.
Selain itu, idealnya pondasi antara tanah dan batu andesit dipasangi plat beton bertulang. Hal itu untuk membuat jalan stabil ketika dilintasi kendaraan. Namun, Sigit enggan menyebut ada kegagalan dalam proyek tersebut.
"Saya tidak mengatakan gagal, hanya ada yang perlu diperbaiki dengan menggunakan metode seperti itu," ujarnya dengan diplomatis.
Usai mendengar pemaparan Sigit, Wali Kota Bandung Dada Rosada kemudian meminta Iming menanggapi. "Ayo Pak Iming, jawab penjelasan Pak Sigit. Kalau tidak bisa menjawab, nanti saya kasih her (ujian ulang - red)," kelakar Dada yang disambut tawa hadirin.
Iming kemudian menanggapinya. "Kami sangat mengapresiasi apa yang disampaikan Pak Sigit. Itu akan jadi pedoman kami untuk memperbaiki Jalan Braga," katanya.
Saat ini, proses perbaikan Jalan Braga masih berjalan sejak pekan lalu.
(ors/ern)











































