Dua minggu sekali, Entis harus memberi makan dengan ayam hidup yang beratnya 1,5 kilogram untuk setiap ular. Sementara, Entang mengandalkan penghasilan untuk hidup sehari-hari dari warung dan berjualan mie ayam.
"Saya cukup kewalahan ngasih makan ular-ular ini. Kalau enggak ada uang lebih dari jualan, mereka sering puasa," kata Entis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tidak memiliki uang untuk membeli ayam, Entis mengaku memberi makan ularnya dengan tikus berukuran besar. "Kalau enggak cari sendiri tikusnya, biasa saya beli ke teman seharga tigaribu rupiah seekor," jelasnya.
Menurutnya jika ular-ularnya telat diberi makan, biasanya akan lemas. "Selain itu, ularnya juga jadi enggak agresif," tutur Entis.
Pria yang dijuluki Limbad oleh warga sekitar ini mengaku jika usahanya sedang laris dan keuntungan berlebih, selalu menyisihkan uang untuk membeli makanan ular.
"Kalau ada uang lebih biasanya langsung beli ayam. Tapi kalau jualan lagi sepi, ya terpaksa mereka puasa dulu," ujar Entis sambil tersenyum.
(orb/bbp)










































