"Kita akan buat Klinik Stop Merokok. Jadi nanti kalau ada yang merokok gimana caranya bisa stop merokok," ujar Dirut RSHS Bayu Wahyudi saat ditemui usai Gowes Kampanye 'Udara Sehat dan Stop Merokok' di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Jumat (27/5/2011).
Di klinik tersebut nantinya akan ada berbagai spesialis yang berkaitan dengan bahaya merokok. "Klinik tersebut secara terintegrasi terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Dari spesialis penyakit dalam dan lainnya," katanya.
Bayu mengaku belum tahu, apakah Klinik Stop Merokok sudah ada di Indonesia atau belum. Namun yang ia tahu, di luar negeri beberapa negara sudah mengoperasikannya.
"Ini hanya sebagai inovasi terintegrasi kita (RSHS-red) saja. Saya juga enggak tahu apa di Indonesia sudah ada atau belum. Mungkin semua juga baru awal (merintis-red)," ujar Bayu.
Meski begitu Bayu mengungkapkan bahwa Klinik Stop Merokok itu nantinya bukanlah seperti pengobatan, namun lebih pada konsultasi bahaya merokok. "Kalau pengobatan biayanya besar, kita lebih ke pencegahan preventif. Sosialisasi bahaya seperti apa dan sebagainya," tuturnya.
Klinik Stop Merokok ini disebut Bayu tengah disiapkan di RSHS. "Kita sedang siapkan tempatnya. Inginnya bulan ini juga sudah ada," kata Bayu.
Dibuatnya klinik tersebut dikatakan Bayu sebagai bentuk partisipasi stop merokok yang biasa diperingati dalam Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap tanggal 31 Mei. Ia mengatakan, untuk kampanye Stop Merokok juga akan dilakukan di internal RSHS sendiri, institusi pendidikan dan event seperti Car Free Day.
(tya/ern)











































