3 Hari 2 Malam Kemping di Gesat, Buruh Kecewa pada Gubernur

3 Hari 2 Malam Kemping di Gesat, Buruh Kecewa pada Gubernur

- detikNews
Rabu, 25 Mei 2011 16:21 WIB
3 Hari 2 Malam Kemping di Gesat, Buruh Kecewa pada Gubernur
Bandung - Sekitar seratusan buruh Micro Garment selama tiga hari dua malam menginap di depan pintu gerbang Gedung Sate (Gesat), Jalan Diponegoro. Mereka membangun tenda yang terbuat dari terpal biru dengan menjadikan pagar penyangganya. Massa yang 80 persen adalah wanita itu terpaksa harus kepanasan dan kehujanan saat hujan mengguyur Kota Bandung.

Massa datang ke Gedung Sate pada Senin (23/5/2011) untuk meminta perlindungan dari Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dari tindakan semena-mena perusahaan. Selama ini mereka digaji di bawah UMK serta jam kerja yang tidak manusiawi.

Eti sumiati (30), warga Solokan Jeruk yang telah bekerja 11 tahun itu, mengaku harus rela meninggalkan dua anak dan suaminya untuk memperjuangkan nasibnya. Setiap hari anaknya menelepon memintanya pulang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sebenarnya kangen sekali dengan keluarga, tapi mereka mengerti saya di sini untuk berjuang," katanya saat ditemui di Gedung Sate sedang siap-siap pulang, Rabu (25/5/2011).

Selama kemping di Gedung Sate, untuk biaya makan berasal dari kantong sendiri dan swadaya para buruh.

Lebih lanjut ia mengungkapkan ada 12 buruh perempuan yang statusnya ibu menyusui. Mereka terpaksa memerah ASI mereka untuk dibuang. "Ya kan sakit kalau tidak dikeluarkan, jadi mereka perah lalu dibuang," ujarnya.

Namun Eti mengaku sangat kecewa dan sedih karena perjuangannya bersama rekan-rekannya selama tiga hari tak membuahkan hasil. "Gubernur sama sekali tak pernah menengok. Kita ke sini itu bikan untuk wisata, meni enggak dilihat," kecamnya.

Sementara itu Nanang Ibrahim, Ketua Basis Gabuangan Solidaritas Perjuangan Buruh Micro Garment mengaku sudah melakukan audiensi dengan pimpinan dewan. "Ketua Dewan Pak Irfan berjanji akan memanggil pengusaha Micro Garment," ungkapnya.

Sementara dari pemprov, hanya menyatakan akan berkoordinasi secepatnya. "Kami kecewa terhadap gubernur. Kami akan teruskan masalah ini ke pemerintah pusat," kata dia.

Menurut Nanang, perusahan telah semena-mena. Karena buruh meminta hak normatif, perusahaan malah berusaha memberangus serikat pekerja. Hingga akhirnya pada 16 dan 17 Desember 2010 melakukan aksi mogok dan mendapatkan dukungan LSM, salah satuta dari International Young Christian Worker.

"Eh kami malah dituduh menyebarkan ajaran salah satu agama. Padahal LSM itu hanya mendukung gerakan kami saja," tegasnya. Anehnya, aparat desa dan polisi juga ikut-ikutan akan membubarkan serikat pekerja.

Perusahaan juga, menurut Nanang sempat mem-PHK 186 karyawan. "Makanya kami meminta perlindungan ke gubernur," katanya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, tenda dari terpal biru mulai dibereskan buruh. "Kami semua pulang hari ini karena izin demo ke polisi hanya tiga hari," ujarnya.


(ern/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini