Kasus tersebut membuktikan kalau aktivitas NII KW 9 bergerilya membidik kalangan pelajar untuk direkrut. Mantan anggota NII KW 9, Ahmad (38) mengatakan, perekrutan pada kalangan pelajar merupakan pola lama. Namun, kata Ahmad, kasus seperti di SMAN 1 Cikalong Wetan, mesti diwaspadai oleh pihak sekolah.
"Jelas hal seperti itu mesti diantisipasi. Pelajar diincar karena mudah dipengaruhi. Selai itu, pelajar ini disiapkan untuk menjadi bibit baru di kemudian hari," jelas Ahmad saat berbincang dengan detikbandung via telepon, Kamis (5/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang berbeda hanyalah cara mengajak dan membina. Kalau ke pelajar, para perekrut lebih memperkenalkan pengetahuan Islam yang lebih ringan dan mudah dimengerti, contohnya soal fungsi diri serta pengertian ibadah," kata Ahmad yang terakhir di NII KW 9 menjabat Kepala Desa di salah satu wilayah Jakarta Timur.
Menurut mantan perekrut ini, gerak gerik perekrut perlu dikenali oleh pihak sekolah. Biasanya, kata Ahmad, perekrut awalnya menawarkan diri menjadi mentor untuk kegiatan kajian Islam di lingkungan sekolah. Perekrut itu bisa dari kalangan alumni sekolah ataupun tidak.
Selain itu, sambung Ahmad, para perekrut jumlahnya antara satu hingga tiga orang. Yang masuk ke sekolah pada umumnya hanya satu atau dua orang.
"Maka itu, guru agama di sekolah mesti mengawasi atau ikut saat ada pihak dari luar yang mengajarkan pengetahuan Islam kepada para siswa. Jangan sembarangan pula menerima mentor dari luar sekolah. Diimbau juga para pelajar segera sadar kalau ternyata ada ajaran yang tidak sesuai dengan kaidah Islam," papar Ahmad yang gabung di NII KW 9 sejak 1997 dan keluar pada 2001.
"Nah, cara terbaiknya, para siswa harus sering berkonsultasi dengan guru agama atau ulama setelah mendapat ilmu dari mentornya. Ini untuk memastikan benar atau tidak ajaran yang disampaikan dari mentor itu," tambahnya.
Ahmad juga berpesan kepada pelajar untuk tidak masuk ke organisasi terkesan tertutup di lingkungan dalam dan luar sekolah. Sebab, aktivis NII KW 9 lebih senang mengincar calon korban di organisasi seperti itu.
"Kalau aktivitas organisasinya terbuka dan tiadak eklusif, perekrut itu menjadi takut. Enggak bakal berani masuk," ungkapnya.
Pada Rabu (4/5/2011), Ahmad menjadi narasumber acara dialog 'Bahaya NII Alzyatun' yang dilaksanakan di SMAN 1 Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Dalam kegiatan tersebut terungkap adanya 11 siswa di SMAN 1 Cikalong Wetan yang nyaris dibaiat NII KW 9.
(bbp/ern)











































