"Tahun 2001 lalu kita pernah membuka posko darurat semacam ini. Kami adakan lagi posko ini untuk mengumpulkan korban. Harapannya untuk menanggulangi agar mereka tidak bergerak leluasa," ujar Ketua FUUI Athian Ali saat jumpa pers di Al Fajr Jalan Cijagra, Sabtu (30/4/2011).
Dibukanya posko korban NII juga untuk mengumpulkan korban dan bukti, untuk melaporkan Panji Gumilang ke polisi. "Kami akan kembali memngumpulkan saksi dan bukti," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadir juga puluhan praja dari IPDN, Akademi Nurtanio dan kampus lainnya. Salah seorang praja tingkat III, Ghani Hakim menuturkan kedatangan ia dan 51 praja lainnya adalah untuk mengetahui seluk beluk NII agar kampusnya tak disusupi aliran tersebut.
"Sekarang kami tahu banyak tentang NII. Nanti kami sosialisasikan pada teman lainnya di kampus supaya jangan sampai mereka tersesat," ujar Ghani yang merupakan aktivis rohis di IPDN itu.
Ia mengatakan, akan berperan mensosialisasikan pergerakan NII agar tidak ada temannya yang direkrut. "Anggota rohis sering dianggap rawan jadi anggota NII, justru sebelum ada anggapan itu kami mau menyangkalnya," katanya.
(tya/avi)











































