Pelaku Cuci Otak Mengintai Kampus dan Menelusuri Mal

Pelaku Cuci Otak Mengintai Kampus dan Menelusuri Mal

Baban Gandapurnama - detikNews
Kamis, 21 Apr 2011 11:16 WIB
Bandung - Pelaku cuci otak dari kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9) diyakini masih berkeliaran mencari korban. Pola ini digunakan NII gadungan dan sempalan. Mereka mengintai kampus hingga menelusuri mal untuk mencari korban.

Hal tersebut diungkapkan mantan aktivis NII KW 9, Adnan Fahrullah (40) saat berbincang dengan wartawan di salah satu tempat di Kota Bandung, Kamis (21/4/2011). Adnan sejak 1989 hingga 2004 menjadi pelaku cuci otak ribuan korban di wilayah Jawa Barat.

"Para kelompok NII gadungan dan sempalan ini dibekali ilmu tentang Islam. Mereka sudah siap merekrut orang atau sekadar menipu korbannya. Yang saya tahu karena pernah melakukan cuci otak, mereka mendatangi kampus dan mal," ujar Adnan yang terakhir menjabat sebagai Kepala Bagian Pembinaan NII KW 9 Provinsi Jawa Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara seperti itu, kata Adnan, masih dianggap jitu oleh para pelaku cuci otak. NII gadungan lebih mencari korban yang siap hijrah dan nantinya dibina. Sementara NII sempalan hanya sebatas mengelabui korban dengan niat hanya menipu, memeras dan menguras uang. Tetapi NII sempalan tidak berlarut-larut menjadikan korbannya 'mesin ATM'.

"Yang paling ideal itu, pelaku mencari calon korban di lingkungan masjid kampus, perpustakaan kampus atau masjid umum. Perkembangan saat ini, pelaku memburu targetnya dengan datang ke mal-mal," ujar Adnan.

Adnan menuturkan, para pelaku cuci otak ini tanpa canggung mendekati orang yang sedang seorang diri. Bila terlihat labil dan memenuhi kategori, mereka bakal mengajak korban untuk berjumpa kembali esok harinya.

"Target calon korban itu yang usianya 30 tahun ke bawah. Ada mahasiswa dan pekerja. Intinya, pelaku membidik korban yang berduit. Mereka berpedoman pada Alquran dan 'menjual' hadist agar calon korban terberdaya serta percaya," paparnya.

Jika sudah terlihat korban mulai terpengaruh, para korban dibawa ke suatu tempat. Lokasinya itu bisa kos atau kontrakan korban, atau sebaliknya. Bisa juga tempat sepi yang tidak diketahui korban.

"Kalau NII gadungan itu tidak melakukan cuci otak dengan cara hipnotis. Tapi cara mereka mampu membuat kosong pikiran korban. NII sempalan yang lebih bermotif kriminal, ada yang pakai hipnotis dan tidak untuk cuci otak korban," jelas Adnan.

Dia menuturkan, NII gadungan kebanyakannya dari pengikut ajaran Panji Gumilang. Menurut Adnan, kelompok binaan Panji Gumilang tetap eksis hingga detik ini. Sementara NII sempalan ialah bekas anak buah Panji Gumilang yang sakit hati lalu membentuk berbagai kelompok tersendiri yang pola kerjanya dilatari faktor ekonomi pribadi.

(bbp/ern)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads