Meski sudah keluar dari kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9), banyak di antara mereka yang masih menjalankan pola NII KW 9, yaitu cuci otak korban. Namun hal itu dilakukan semata urusan perut.
"NII sempalan ini yang aksinya sering diketahui di permukaan. Mereka memang masih melakukan cara dan pola seperti dahulu saat pernah menjadi anggota NII. Yakni melakukan cuci otak terhadap korbannya," ujar mantan aktivis NII KW 9, Adnan Fahrullah (40).
Pria yang terakhir menjabat sebagai Kepala Bagian Pembinaan NII KW 9 Provinsi Jawa Barat ini mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan di salah satu kawasan di Kota Bandung, Kamis (21/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau modusnya hampir sama dengan NII gadungan yakni meyakini korbanya dengan 'jualan' ayat-ayat Alquran. Tapi NII sempalan ini niatnya hanya menguras uang korban dalam waktu sesaat saja. Yang penting urusan perut terpenuhi, setelah itu korbannya ditinggal, tidak sampai dibina," ujar Adnan yang pernah bergabung NII KW 9 pimpinan Panji Gumilang ini.
Yang diketahui Adnan, NII sempalan ini bekerja juga secara berkelompok. Mereka mencari korban yang berusia 30 tahun ke bawah. Selain itu, sambung dia, NII sempalan mencari targetnya yakni orang-orang memiliki pekerjaan.
"Atau mahasiswa yang sekiranya punya orang tua berduit. NII sempalan lebih condong menipu dan memeras. Ya, lebih cenderung kriminal dengan motif impitan ekonomi. Jadi uang yang didapat bukan untuk infak seperti dilakukan NII gadungan," jelasnya.
Diungkapkan Adnan, NII sempalan ini seolah telah melalukan penculikan. Namun mereka, hanya membawa korban ke suatu tempat berhari-hari untuk dikelabui saja. Karena korban takut atau sudah terkena pencucian otak, pelaku lalu menguras uang serta mengambil kartu ATM beserta nomor atau angka PIN-nya.
"Setelah semua berhasil, si korban ditinggal dengan kondisi linglung. Atau bila korbannya wanita, diperlakukan tak senonoh. Seperti itu pernah kejadian tanpa mengambil harta benda, " paparnya.
Informasi yang diperoleh Adnan, para pelaku yang mantan anggota kelompok NII KW 9 ini memang mempunyai target menggasak harta benda korban. Seminggu, jelas dia, NII sempalan menargetkan dua hingga tiga orang calon korban. Bila di tengah perjalanan menuju cuci otak ternyata korban golongan berduit tipis, mereka memilih tidak melanjutkan aksinya.
"Satu korban itu berhasil diperas rata-rata tidak sampai puluhan juta rupiah. Paling kecil paling dua juta rupian. Bila korban tidak didapat, mereka punya cara lain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Nah, NII sempalan ini mengutil di supermarket, ada menjadi pencopet, bahkan merampok," ungkapnya.
Ada modus yang dipandang Adnan terbilang lucu. Para NII sempalan ini berkedok sebagai agen penyalur pembantu wanita. Saat transaksi, majikan harus membayar dengan itungan sewa tiga bulan. Rupanya, Adnan mengatakan, pembantu yang berkompolot ini hanya bertahan satu minggu.
"Ada lagi modus lain yang membuat saya ketawa. Ini saya pernah menemukannya langsung. NII sempalan mencari uang dengan cara membuka lowongan kerja (loker). Guna meyakini pelamar, mereka menyewa kantor yang dilengkapi satpam. Nah, si pelamar dipungut biaya dari kegiatan loker yang dilakukan orang-orang mantan NII," ujar pria yang juga pernah menjadi pelaku cuci otak ribuan anggota NII di Jabar ini.
Di seluruh Indonesia, Adnan memprediksi jumlah NII sempalan lebih sedikit ketimbang NII gadungan. "Menipu,memeras,memaksa hingga merugikan orang itu adalah perbuatan kriminal. Tindakan tersebut sudah jelas dilarang dalam Islam," ucap Adnan yang pernah bergabung dalam kelompok NII KW 9 sejak 1989 hingga 2004.
(bbp/ern)











































