Hal itu diungkapkan Heryawan usai menerima Delegasi Walhi Jawa Barat di Gedung Negara Pakuan, Kamis (14/4).
"Saya mengenal beliau sebagai salah satu tokoh nasional, beliau juga tokoh pers yang menjadi panutan bagi para pelaku jurnalis. Beliau merupakan wartawan lima zaman. Jejak langkahnya terekam dalam 21 judul buku hasil karyanya dengan ratusan artikel yang tersebar di hampir semua media nasional maupun asing. Hingga menjelang akhir hayatnya, beliau masih aktif mengirim artikel. Sebagai bangsa, kita jelas merasa kehilangan beliau," ujar Heryawan dalam rilis yang diterima detikbandung, Kamis (14/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semoga Allah menempatkan beliau di sisi-Nya. Dan memberikan kesebaran bagi keluarga yang ditinggalkannya," ujarnya.
Rosihan Anwar belum lama ini menjalani operasi bedah (by pass) jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta. Rosihan telah menghasilkan setidaknya 21 judul buku dan mungkin ratusan artikel di hampir semua koran dan majalah utama di Indonesia dan di beberapa penerbitan asing.
Pada masa hidupnya Rosihan juga dikenal sebagai wartawan yang kerap mengeluarkan tulisan kritis terhadap penguasa semenjak masa penjajahan Belanda.
Koran miliknya, Pedoman, sempat ditutup oleh pemerintah Presiden Sukarno di tahun 1961 dan oleh Presiden Suharto pada masa orde baru di tahun 1974.
Pada tahun 2007, Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946 mendapat penghargaan Life Time Achievement atau Prestasi Sepanjang Hayat dari PWI Pusat
(tya/tya)











































