"Saat ini kami support kondisi pasien dengan perawatan di NICU. Akan kami memperbaiki kondisinya, lalu akan membuang usus yang mati. Tapi saat ini belum memungkinkan," jelas Dokter Bedah Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Dikki Drajat, kepada wartawan di ruang kerja Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Jalan Pasteur, Senin (21/3/2011).
Jika kondisi memungkinkan, dokter juga akan memasukkan kembali usus yang keluar secara bertahap. Caranya dengan mengurangi ukuran silo atau kantung penutup usus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikki menjelaskan, waktu yang diperlukan usus untuk masuk ke dalam perut terbilang bervariatif, mulai dari 2 minggu hingga 1 bulan.
Sementara itu Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Rudi Kadarsyah menuturkan, kasus seperti ini sebenarnya telah sering ditangani RSHS. "Sebenarnya sering ada yang seperti ini, tapi jarang terekspose media," ungkap Rudi.
Ia menjelaskan, masih ada harapan bagi bayi dengan usus terburai untuk bisa sembuh. "Setelah ada silo angka survival pasien cukup meningkat sebelumnya. Sebelumnya 100 persen tidak ada harapan. Kalau sekarang masih ada harapan," ujar Rudi.
Menurut Rudi secara medis terjadi pelemahan fisik pada Nadia. Maka itu, perawatan di NICU untuk support kelangsungan hidup mutlak diperlukan. Ia menambahkan, RSHS tidak menelantarkan pasien Nadia. Melainkan, sambung dia, ruang di NICU penuh sehingga harus menunggu.
"Kami tidak membeda-bedakan pasien. Waktu itu kan pasien membutuhkan ruang NICU, namun permasalahannya waktu itu penuh. Sambil menunggu makanya masih di ruang IGD. Waktu itu kami sempat menawarkan ke RS lain, tapi ternyata penuh juga," ungkap Rudi.
(tya/bbn)











































