Hal tersebut diungkapkan ujar Dokter Bedah Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Dikki Drajat, kepada wartawan di ruang kerja Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Jalan Pasteur, Senin (21/3/2011).
Β
"Ada lubang di sekitar pusar, lubangnya sekitar empat sentimeter yang termasuk kulit, lemak, selaput otot, dan otot. Sehingga usus terburai dari rongga perut," ujar Dikki.
Ia menjelaskan kelainan ini sudah terjadi sejak bayi masih berada di dalam kandungan. "Usus seolah berenang di cairan ketuban sehingga mengakibatkan pembengkakan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang menghubungkan dengan gizi. Tapi itu juga tidak terbukti sepenuhnya karena ada yang mengalami kelainan itu dari golongan mampu dan asupan gizi baik selama hamil," tutur Dikki.
Lebih lanjut ia mengatakan, dokter tidak bisa langsung melakukan pengembalian usus ke rongga perut karena akan menyebabkan perut mengalami kepadatan. Kalau usus dipaksakan langsung masuk, sambung Dikki, maka akan menekan sekat rongga dada dan perut.
Selain itu, karena adanya pembengkakan usus, juga membuat fungsi usus melakukan gerakan
peristaltik terganggu.
"Sebenanya risiko yang paling berat adalah terkena infeksi, karena tidak ada barier (penahan-red) kuman agar tidak masuk. Umur bayi 12 jam saja keadaannya sudah infeksi berat, pendarahan, kadar gula rendah dan itu mempengaruhi fisik. Dan sampai sekarang terjadi pemburukan," jelas Dikki.
Pasangan Parman (33) dan Dewi (24) warga Kampung Tarik Kolot RT 03 RW 11 Cilawu Mangkurakyat Garut terkejut saat anak mereka lahir dengan kondisi usus terburai, Rabu (16/3/2011). Bayi yang kemudian dinamai Nadia itu sejak Kamis (17/3/2011) hingga kini masih dalam kondisi memprihatinkan dan mendapatkan perawatan di ruang NICU RS Hasan Sadikin, Jalan Pasteur Bandung.
(tya/bbp)











































