Polisi masih menyelidiki temuan dus handphone yang sempat dikira paket bom di Pos Polisi, Jalan Asia Afrika (Simpang Lima), Kota Bandung. Pasalnya, peneror meninggalkan jejak berupa surat yang isinya menolak pemilihan umum (Pemilu) dan menuntut presiden mundur.
"Ini dalam penyelidikan dan masih mendalaminya," jelas Kasubaghumas Polrestabes Bandung Kompol Endang Sri Wahyu Utami saat berbincang bersama detikbandung via ponsel, Minggu (20/3/2011).
Hingga kini siapa penyimpan dus itu belum teridentifikasi polisi. Lebih dari dua saksi sudah diminta keterangan terkait aksi teror tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, dua polisi lalu lintas Polrestabes Bandung menemukan dus mencurigakan di Pos Polisi, Jalan Asia Afrika (Simpang Lima), Kota Bandung, Sabtu (19/3/2011), sekitar pukul 07.00 WIB.
Kedua petugas itu terkejut karena di kotak kardus hitam ukuran sekitar 20x25 sentimeter dan tebal 5 sentimeter itu terdengar suara seperti detakan mirip jarum jam. Karena curiga bom, mereka lalu melaporkan temuan itu kepada Kasatlantas Polrestabes bandung AKBP Sambodo Purnomo. Kabar itu diteruskan Sambodo ke Unit Identifikasi Polrestabes Bandung.
Pukul 09.15 WIB, tim Gegana Polda Jabar tiba di lokasi. Benda itu dikeluarkan dari Pos Polisi menuju tempat terbuka. Pada pukul 09.40 WIB, diledakan menggunakan alat discrupter.
Tim Gegana Polda Jabar tidak mendapati adanya bahan kimia peledak. Jadi, dus itu bukan bom. Namun, di dalam dus tersebut, polisi menemukan tiga rangkaian baterai berjumlah sembilah buah berwarna hitam garis-garis merah. Selain itu, ditemukan pula kertas bertulis, 'Tolak Pemilu dan R1 Mundur'. (bbp/ern)










































