Sekitar 200 orang dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) mendesak pemerintah mengatur standar upah tani karena selama ini terjadi diskriminasi terhadap buruh tani perempuan. Pedemo yang mayoritas buruh tani asal Pangalengan, Kabupaten Bandung, beraksi memukul-mukul piring.
Unjuk rasa yang didominasi kaum perempuan di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Selasa (8/3/2011), berkaitan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional. FPR menemukan masih adanya buruh tani perempuan yang mendapat upah minim.
"Kami menuntut penghapusan diskriminasi terhadap buruh tani perempuan. Selama ini telah terjadi diskrminasi. Misalnya waktu bekerja dan luas garapan yang sama, namun upah yang diterima perempuan lebih kecil daripada buruh tani pria," kata Juru Bicara FPR, Yessy Meirliane, di lokasi unjuk rasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain meminta adanya persamaan upah, kami juga meminta standarisasi upah buruh tani. Selain itu, kami mendesak pemerintah untuk mengabulkan janji meyediakan lahan garapan," jelasnya.
Massa aksi menggunakan topi caping dan membawa piring serta tutup panci. Selama menyalurkan aspirasinya, pedemo memukul-mukul piring dan tutup panci itu memakai sendok. Pedemo juga membentangkan poster yang di antaranya bertulis 'Tubuh Perempuan Bukan Komoditas, 'Perempuan Bukan Manusia Kelas Dua' dan 'Hapus Dikriminasi Upah Buruh Tani Perempuan'. (bbp/bbp)











































