"Kalau isu flu burung di Garut tidak berpengaruh bagi pedagang. Tapi pedagang diimbau tetap lebih selektif bila membeli ayam dari Garut," jelas Ketua II Persatuan Pedagang Pasar dan Warung tradisional (Pesat) Jabar, Agus Fadillah, saat dihubungi detikbandung via ponsel, Senin (7/3/2011).
Menurut Agus, pasokan ayam yang datang ke Kota Bandung berasal dari priangan Timur. Namun ayam-ayam dari Garut yang dijual di 34 pasar tradisional di Kota Bandung jumlahnya sedikit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adanya wabah flu burung di Garut tidak mempengaruhi penjualan ayam potong di Bandung. Pedagang sudah mengerti memilih mana ayam yang sakit atau tidak. Intinya saat ini para pedagang tetap waspada dan selektif memilihnya sebelum ayam dijual kepada ," ujar Agus.
Pertengahan Februari lalu, ratusan unggas jenis ayam, bebek dan burung milik warga Kampung Warung, Desa Banyuresmi, Kecamatan banyuresmi, Kabupaten Garut, mati secara mendadak. Diduga penyebab kematian ayam itu akibat terjangkit virus flu burung atau H5N1.
Seorang bayi berusia enam bulan warga Kampung Cangkuang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupatyen Garut, sempat dirawat di RSUD dr Slamet Garut pada 26 Februari karena dikategorikan suspect flu burung. Sementara terduga lainnya yakni NK (49), warga perum Cempaka Indah sempat dirawat di ruang isolasi RSUD dr Slamet sejak 25 Februari lalu. NK menderita demam tinggi setelah bersentuhan dengan unggas. Setelah menjalani perawatan, Dinas Kesehatan Garut menyatakan kedua terduga itu negatif flu burung.
(bbp/ern)











































