"Saya berharap di tubuh (manajemen) Persib ini ada reshuffle nantinya," kata pemain Persib era 1980-an itu, saat ditemui di Sekretariat Pengda PSSI Jabar, Jalan Lodaya, Jumat (25/2/2011).
Ia menilai, selama ini masih terjadi benturan porsi tugas antara manajemen dan tim pelatih. Bahkan, menurutnya ada orang yang harusnya paling bertanggungjawab atas keterpurukan Persib selama beberapa tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama beberapa tahun terakhir, Persib pun harus mati-matian untuk menembus papan atas klasemen, bahkan tidak pernah menjuarai kompetisi sejak Liga Indonesia edisi perdana digulirkan lebih dari satu dekade lalu.
Bahkan musim ini, Persib terpuruk di papan bawah klasemen Liga Super Indonesia (LSI). Hasil itu, jelas menurutnya kesalahan besar manajemen.
"Kesalahan awal (musim ini) ya dari manajemen sendiri. Mulai dari rekrutmen pelatih, pemain. Siapa yang paling bertanggungjawab di situ? Ya, kita tahu sendiri lah," ungkapnya yang enggan menyebut nama karena dianggap tidak etis.
Ajat pun memberi peringatan pada manajemen agar tidak mencampuri urusan teknis. Sebab, ranah teknis yang berhubungan langsung dengan pemain di lapangan adalah pelatih.
"Manajemen di sini banyak ikut campur tangan. Kalau manajemen sudah ikut campur urusan teknis sepakbola, selesai. Manajemen kan urusannya manajerial, teknis ya urusan pelatih," terangnya.
Ia mengatakan, sikap manajemen Persib pun dianggap terlalu jauh. Hal itu terlihat dari sejumlah pemain yang ditawarkan manajemen ke pelatih.
"Yang dilakukan Persib seperti itu, pemain ditawar-tawarkan (ke pelatih). Harusnya pelatih yang nunjuk pemain mana yang diinginkan. Kalau misalkan pelatih mau cari pemain ke Eropa, biayai saja, pelatih yang cari. Uang Persib kan banyak," bebernya.
Catatan detikbandung, di awal persiapan Persib menuju LSI musim 2010/2011, manajemen menginginkan sejumlah nama beken memperkuat 'Maung Bandung'. Manajemen pun menawarkan pemain yang diinginkannya seperti Zah Rahan, Abanda Herman, serta beberapa pemain top lainnya.
Namun pelatih saat itu, Daniel Darko Janackovic tidak memakai pemain yang disodorkan manajemen karena punya selera sendiri dalam meracik tim. Dan akhirnya, justru Darko yang 'digulingkan' manajemen sebelum kompetisi LSI bergulir.
(orb/bbp)











































