Ayi yang mengenakan pakaian Linmas hijau datang pukul 11.00 WIB. Ayi sempat menemui Nono di ruang besuk, sebelum akhirnya berbincang-bincang dengan Nono di ruang kerja Karutan Kebon Waru Suharman. Pertemuan tersebut berlangsung tertutup.
Usai bertemu dengan Nono, Ayi mengatakan ia banyak ngobrol mengenai kronologi kasus yang akhirnya Nono meringkuk di ruang sel tahanan. "Saya terharu mendengar langsung cerita dari Pak Nono. Ya mudah-mudahan ini kasus terakhir," ujar Ayi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Nono yang mengenakan baju putih polet hijau dan berpeci tak bisa bicara banyak. Matanya terlihat berkaca-kaca. Ia hanya menyatakan ingin segera bebas.
"Saya senang dikunjungi pak wakil, harapan saya sih hanya satu, ingin segera bebas," ujar Nono dengan suara lirih hampir tak terdengar.
Nono terpaksa jadi pesakitan dan ditahan sejak 21 November hingga sekarang. Pekerjaannya sebagai tukang reparasi barang elektronik tak mencukupinya untuk membiayai delapan anaknya. Karena itu, ia terpaksa meminjam uang Rp 100 ribu ke rentenir yang ia kenal, Miller.
Rentenir itu membebankan bunga sebesar 25 persen. Nono harus membayar Rp 5 ribu per hari selama 25 hari atau jika ditotal Rp 125 ribu. Selama 14 hari pembayaran lancar. Namun pada hari ke-15, Nono tak mempunyai uang untuk membayar. Ia pun meminta waktu membayar dua kali pada esok hari.
Namun Miller, sang rentenir menolak. Ia terus meminta Nono membayar utangnya. Diduga tersinggung dengan ucapan Miller, Nono pun memukul Miller. Akhirnya keduanya terlibat adu jotos. Keesokan harinya pada 21 November, Anggota Polsek Babakan Ciparay menjemputnya dan langsung menjebloskan bapak delapan anak itu ke sel. Polisi melakukan penahanan maksimal yaitu selama 60 hari.
(ern/ern)











































