Hal itu diungkapkan Bucky pada wartawan usai menghadiri pertemuan dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Jumat (18/2/2011).
"Dalam pernyataannya di sebuah surat kabar, produser film itu menyatakan bahwa film dibuat atas survei yang dilakukan sebelumnya. Observasi seperti apa itu. Karena selama saya meneliti tentang ini, tidak ada tuh seperti yang digambarkan. Tidak sesuai dengan yang ada di lapangan. Terlalu mengada-ada," ujar Bucky.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi itu bukan sesuatu yang diumbar diatas panggung. Ritual mereka dilakukan di belakang panggung. Jadi tidak ada itu yang kesurupan arwah di atas panggung. Lalu ada beradu buah dada, tidak ada itu. Yang ada itu adalah Tarung Panggung, dan itu sifatnya pertunjukkan," jelas Bucky.
Bucky pun mengaku khawatir, film ini akan berdampak pada penari generasi penerus. "Film ini dikhawatirkan berdampak ke penari di Jabar. Dicitrakan jelek itu kan kejahatan," katanya.
Saat disinggung apakah jika judul film diganti hal itu akan membuat warga Karawang tak lagi tesinggung, menurutnya hal itu tergantung pada isi film.
"Kalau isi film telepas dari konteks ketersinggungan yang dimaksud ya bisa saja. Ya tergantung isinya juga," katanya.
Bucky mengaku melakukan penelitian Tari Ronggeng selama 4 tahun lebih untuk disertasi doktor Sosiologi di Unpad.
(tya/ern)











































