Koordinator aksi Andi Nurroni mendesak kepada pemerintah untuk mengusut tuntas kasus tersebut, mengadili pelaku serta hentikan kekerasan dan itimidasi terhadap petani.
"Tujuan kami datang ke sini, adalah sebagai bentuk solidaritas terhadap insiden penembakan petani di Jambi," jelas Andi di lokasi unjuk rasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pedemo yang sebagian menggunakan caping atau topi petani itu datang ke ke Gedung Sate seitar pukul 10.20 WIB. Mereka membawa poster ukuran 50 cm x 50 cm yang bertulis 'Usut Tuntas penembakan Petani di Jambi' dan 'Hentikan kekerasan Terhadap Petani'
Andi menambahkan, setelah kejadian di Jambi, dalam beberapa hari terakhir beradar isu rencanan pengusiran lebih 3.000 petani penggarap oleh Pemrov Lampung. Sepekan lalu. telah terjadi pengusiran terhadap 1.000 penggarap di wilayah Dusun Pelita Jaya, Sungai Buaya, Kabupaten Mesuji, Jambi.
"Dua kasus tadi menunjukkan pada kita kenyataan pahit, bahwa rezim boneka SBY-Boediono semakin kejam menindas petani," tuturnya.
Massa meminta perwakilan polisi untuk berbicara. Mereka meinta polisi untuk tidak melakukan kekerasan dan intimidasi terhadap petani. Salah seorang perwakilan polisi akhirnya berbicara, namun ia tidak bersedian memnuhi janji yang diinginkan pedemo.
"Kami di sini hanya bertugas memberikan pengamanan. Untuk janji itu dari Polda, bukan dari kami," jelasnya.
Unjuk rasa tersebut mendapat penjagaan sekitar 100 personel Polrestabes Bandung. Pedemo yang juga sebagian petani dari Pangalengan, Kabupaten Bandung, membentangkan spanduk ukuran 1x3 meter yang tulisannya, 'SBY-Boediono Rezim Antirakyat Boneka Amerika'. Massa membubarkan diri sekitar pukul 11.00 WIB dan melanjutkan aksi ke Gedung RRI dan melakukan siaran untuk menyampaikan tuntutan.
(bbp/ern)











































